Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Penerbitan Surat Utang Korporasi Diproyeksi Tembus Rp180 Triliun pada 2026

Penerbitan Surat Utang Korporasi Diproyeksi Tembus Rp180 Triliun pada 2026 Kredit Foto: Pefindo
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2026 mencapai Rp175 triliun-Rp180 triliun. Kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing) utang yang jatuh tempo pada kuartal IV-2026 menjadi salah satu penopang, dengan nilai diperkirakan mencapai Rp43,56 triliun.

Head of Economic Research Division Pefindo, Suhindarto, mengatakan prospek penerbitan surat utang korporasi masih ditopang kebutuhan pembiayaan perusahaan. Namun, tingginya biaya pendanaan membuat penerbitan baru cenderung melambat.

Hingga September 2026, penerbitan surat utang korporasi tercatat sebesar Rp139,65 triliun, turun 12,75% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp160 triliun.

Perlambatan tersebut terutama dipicu kenaikan biaya pendanaan sejak kuartal II-2026. Pada periode itu, imbal hasil (yield) Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) meningkat sehingga mendorong kenaikan kupon obligasi korporasi.

“Seiring dengan biaya bunga yang relatif lebih tinggi ini, penerbitan surat utang korporasi pada 2026 relatif mengalami moderasi,” ujar Suhindarto dalam konferensi pers Pefindo, Rabu (14/10/2026).

Meski kenaikan kupon mulai melandai pada Agustus–September, levelnya masih relatif tinggi dibandingkan awal tahun dan periode yang sama pada 2025. Data Pefindo menunjukkan, rata-rata kupon surat utang berperingkat AAA dengan tenor satu tahun mencapai sekitar 6,5% hingga September 2026, naik dari sedikit di atas 6% pada tahun sebelumnya. Sementara itu, kupon obligasi berperingkat single A telah melampaui 8%, sedangkan peringkat double A untuk tenor tiga dan lima tahun berada di atas 7%.

Besarnya kupon dipengaruhi kondisi suku bunga, yield acuan, peringkat kredit, dan tenor surat utang. Semakin tinggi risiko kredit penerbit, umumnya semakin besar imbal hasil yang diminta investor.

Refinancing dan Strategi Tenor Pendek

Kebutuhan refinancing turut memengaruhi strategi perusahaan dalam menerbitkan surat utang. Obligasi bertenor satu tahun mendominasi penerbitan selama sembilan bulan pertama 2026 dengan porsi 34,77%. Kondisi ini berbeda dari 2025, ketika tenor lima tahun relatif lebih diminati.

Tenor pendek memberi peluang bagi perusahaan untuk membiayai kembali utang saat jatuh tempo, dengan harapan suku bunga telah turun. Namun, jika biaya pendanaan tetap tinggi, perusahaan berisiko menghadapi bunga yang lebih mahal ketika menerbitkan utang baru.

Baca Juga: ENRG Tambah Utang Rp500 Miliar Melalui Obligasi, Dana Besar Mengalir ke Anak Usaha

Baca Juga: BEI Catat 7 IPO Himpun Rp2,16 Triliun, Pipeline Obligasi Capai Rp132,98 Triliun

Baca Juga: Jakarta Mau Terbitkan Obligasi Rp5,2 Triliun, Pramono: Kalau Tak Diizinkan, Ya Sudah

Dari sisi peringkat kredit, obligasi AAA menyumbang 41,29% dari total penerbitan hingga September 2026. Porsi single A mencapai 39,84%, sedangkan double A sebesar 18,7%. Adapun obligasi berperingkat BBB hanya mencakup sekitar 0,18%. Sebagai perbandingan, porsi penerbitan AAA pada 2025 mendekati 60%.

Pefindo menilai emiten berperingkat AA ke atas masih berpeluang aktif menerbitkan obligasi karena biaya pendanaannya relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata bunga kredit perbankan. Sebaliknya, bagi perusahaan dengan peringkat lebih rendah, penerbitan obligasi dapat menjadi kurang kompetitif dibandingkan pinjaman bank atau sumber pendanaan lainnya.

Hingga akhir September 2026, nilai surat utang korporasi yang beredar (outstanding) mencapai Rp576,4 triliun, lebih tinggi dibandingkan akhir 2025. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun penerbitan baru melambat secara tahunan, total surat utang korporasi yang beredar masih meningkat.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan