- Home
- /
- EkBis
- /
- Agribisnis
Kemarau Panjang Mengancam Pasokan Cabai, Ewindo Dorong Inovasi Benih Unggul
Kredit Foto: Ewindo
Kemarau panjang dan serangan penyakit mengancam produktivitas petani cabai di sejumlah sentra produksi nasional. PT East West Seed Indonesia (Ewindo) mendorong penggunaan benih varietas unggul tahan penyakit untuk menekan risiko gagal panen sekaligus menjaga pendapatan petani di tengah cuaca ekstrem.
Salah satu varietas yang dikembangkan perusahaan adalah cabai keriting hibrida Laba TAVI F1. Varietas ini diklaim memiliki ketahanan terhadap sejumlah penyakit tanaman, termasuk layu bakteri, busuk batang atau akar, serta infeksi virus kompleks.
Ewindo menyebut Laba TAVI F1 berpotensi menghasilkan panen 18–23 ton per hektare, dengan bobot rata-rata buah sekitar 8 gram. Potensi produktivitas tersebut ditawarkan sebagai salah satu pilihan bagi petani untuk menjaga hasil usaha tani ketika menghadapi tekanan cuaca dan serangan penyakit.
General Manager Commercial Ewindo, Budi Hariyono, mengatakan pengembangan varietas tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan memanfaatkan riset pemuliaan tanaman untuk menghadapi tantangan perubahan iklim.
"Kami memahami betul bahwa iklim ekstrem dan serangan penyakit menjadi ancaman terbesar bagi pendapatan petani. Melalui inovasi benih unggul yang tahan penyakit dan adaptif di cuaca kering, kami ingin memastikan produktivitas serta kesejahteraan petani tetap terjaga, selain itu kelebihan adaptif ini akan membantu petani mengurangi biaya," ujar Budi dalam keterangan tertulis, Kamis (15/10/2026).
Tekanan terhadap produksi cabai tidak hanya berasal dari keterbatasan air. Menurut paparan Ewindo, suhu tinggi juga dapat memicu peningkatan populasi hama pembawa virus, seperti kutu daun, thrips, dan kutu kebul. Kondisi tersebut meningkatkan risiko penyebaran penyakit tanaman, termasuk infeksi virus dan layu bakteri.
Sawal, petani cabai asal Jawa Tengah, mengaku mengalami gagal panen akibat sebagian besar tanaman cabainya mati ketika hujan tidak turun.
"Akibat tidak ada hujan kami gagal panen. Ada sebagian kecil tanaman yang bisa dipanen, tapi itu pun hasilnya tidak bagus," kata Sawal.
Kondisi tersebut menggambarkan risiko yang dihadapi petani ketika kekeringan terjadi bersamaan dengan serangan penyakit. Penurunan produksi berpotensi memengaruhi pendapatan petani dan ketersediaan pasokan cabai di pasar.
Ewindo menilai penggunaan varietas tahan penyakit dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi risiko kerugian usaha tani. Pendekatan tersebut dilakukan melalui pemuliaan tanaman yang disesuaikan dengan kondisi agroklimat Indonesia.
Meski demikian, ketahanan varietas terhadap penyakit tidak serta-merta menghilangkan seluruh risiko budidaya. Ketersediaan air, teknik irigasi, kondisi lahan, dan pengelolaan tanaman tetap memengaruhi hasil panen.
Karena itu, perusahaan juga mengedukasi petani mengenai penggunaan benih berkualitas, efisiensi irigasi, dan pengaturan pola tanam. Kombinasi praktik budidaya tersebut diharapkan membantu petani menghadapi perubahan cuaca sekaligus menjaga produktivitas.
Agus, petani cabai yang menggunakan Laba TAVI F1, mengatakan pemilihan varietas menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menghadapi cuaca yang tidak menentu.
"Saya melihat Laba TAVI F1 memiliki performa tanaman yang baik. Bagi kami petani cabai, kondisi cuaca yang tidak menentu dan serangan penyakit menjadi tantangan tersendiri karena bisa memengaruhi hasil panen. Karena itu, memilih varietas yang memiliki ketahanan terhadap penyakit menjadi salah satu pertimbangan penting dalam budidaya cabai," ujarnya.
Ia berharap penggunaan varietas yang sesuai dengan kondisi budidaya, disertai perawatan yang tepat, dapat membantu menjaga produktivitas dan hasil panen.
Ewindo juga menggelar kegiatan edukasi bagi petani di sejumlah wilayah sentra cabai. Salah satunya berlangsung di Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dengan melibatkan sekitar 230 petani dari Kabupaten Simalungun, Batubara, dan Deli Serdang.
Perusahaan berharap edukasi tersebut dapat memperluas pemahaman petani mengenai penggunaan benih unggul dan pengelolaan budidaya di tengah ancaman kemarau panjang.
Baca Juga: BMKG Prediksi Musim Hujan RI Mundur, Kemarau Bakal Lebih Panjang
Baca Juga: Mundur Lagi, BMKG Prediksi El Nino Bertahan hingga Awal 2027
Bagi sektor hortikultura, upaya menjaga produktivitas cabai menjadi penting karena gangguan produksi dapat memengaruhi pasokan komoditas di pasar. Namun, bahan yang disampaikan Ewindo belum mencantumkan data mengenai luas lahan yang menggunakan Laba TAVI F1, realisasi produktivitas di lapangan, ataupun besaran penghematan biaya yang diperoleh petani.
Dengan demikian, potensi hasil 18–23 ton per hektare yang disebutkan perusahaan perlu dibedakan dari realisasi panen aktual. Dampak penggunaan varietas tersebut terhadap pendapatan petani dan stabilitas pasokan cabai juga memerlukan data lapangan lebih lanjut.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: