Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Teknologi Ewindo Ubah Nasib Petani, Hasil Panen Meningkat

Teknologi Ewindo Ubah Nasib Petani, Hasil Panen Meningkat Kredit Foto: Ewindo
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT East West Seed Indonesia (Ewindo) terus mendorong modernisasi budidaya bawang merah nasional melalui teknologi True Shallot Seed (TSS), yakni metode budidaya bawang merah dari biji yang dinilai lebih efisien dan produktif dibanding sistem konvensional berbasis umbi.

Managing Director PT East West Seed Indonesia, Glenn Pardede, mengatakan inovasi menjadi kunci peningkatan kesejahteraan petani di tengah tantangan sektor pangan yang semakin kompleks.

“Inovasi adalah hal yang sangat penting bagi petani. Tanpa inovasi, produktivitas akan stagnan, sementara tantangan terus meningkat. Karena itu, kami berkomitmen menghadirkan solusi yang relevan dan berdampak langsung bagi petani,” ujar Glenn.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem, Ewindo membangun pusat pelatihan Rumah Bawang di Cimaung, Wonosobo, dan Solok. Fasilitas tersebut menjadi tempat belajar budidaya TSS secara menyeluruh, mulai dari pengolahan lahan, persemaian, transplanting, perawatan, panen, hingga pascapanen.

Penerapan teknologi ini mulai menunjukkan hasil nyata di lapangan. Salah satu contohnya dialami Tono Suwarna, mantan pegawai negeri sipil (PNS) asal Cimaung, Jawa Barat, yang kini sukses mengembangkan usaha tani bawang merah setelah beralih ke TSS.

Tono meninggalkan metode tanam berbasis umbi di tengah fluktuasi harga dan tingginya biaya produksi. Ia memilih menggunakan TSS sebagai langkah baru dalam meningkatkan hasil usaha taninya.

“Awalnya banyak yang bilang saya nekat. Tapi saya percaya kalau mau maju, harus berani mencoba hal baru,” ujar Tono saat ditemui di lahan pertaniannya.

Menurut dia, penggunaan TSS mampu meningkatkan hasil panen hingga belasan ton per hektare dengan kualitas umbi yang lebih seragam. Selain itu, biaya bibit dapat ditekan sehingga margin keuntungan menjadi lebih besar.

“Inovasi ini benar-benar mengubah hidup saya. Biaya lebih hemat, hasil lebih banyak. Dari sini saya bisa menyekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi,” katanya.

Komoditas bawang merah sendiri memiliki posisi strategis di Indonesia karena menjadi kebutuhan pokok rumah tangga sekaligus bahan utama berbagai masakan. Konsumsi nasional diperkirakan mencapai 2,8 hingga 3 kilogram per kapita per tahun.

Namun, produktivitas petani masih relatif terbatas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, rata-rata produktivitas bawang merah nasional berada di kisaran 9–10 ton per hektare.

Ewindo menyebut teknologi TSS melalui varietas MERDEKA F1 memiliki potensi hasil 14–18 ton per hektare atau meningkat sekitar 40% hingga 80% dibanding metode konvensional. Penggunaan TSS juga mampu menekan biaya bibit sebesar 30% hingga 50%.

Tono yang kini aktif berbagi pengalaman di Rumah Bawang menilai kehadiran pusat pembelajaran tersebut membantu mempercepat adopsi teknologi di tingkat petani.

Ewindo menilai semakin luas penggunaan TSS akan memperkuat pasokan bawang merah nasional, meningkatkan efisiensi produksi, serta mendorong pendapatan petani secara berkelanjutan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement