Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Singapura Bidik 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Denda Bisa Capai Rp42 Miliar!

Singapura Bidik 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Denda Bisa Capai Rp42 Miliar! Kredit Foto: IG @kshanmugam_
Warta Ekonomi, Jakarta -

Otoritas Singapura menerbitkan pemberitahuan hukum kepada 10 perusahaan Indonesia terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap lintas negara. Perusahaan-perusahaan tersebut diminta menghentikan pembakaran di lahan konsesi dan menyerahkan rencana pencegahan kebakaran, dengan ancaman denda maksimal S$ 100.000 atau Rp 1,4 miliar (kurs Rp 14.000 per dolar Singapur) per hari, dengan total maksimal S$ 2 juta atau Rp 28 miliar.

Badan Lingkungan Nasional Singapura (National Environment Agency/NEA) menerbitkan pemberitahuan tersebut berdasarkan Transboundary Haze Pollution Act (THPA). Ketentuan itu memungkinkan Singapura menindak perusahaan yang terbukti bersalah terkait pencemaran kabut asap lintas negara.

Mengutip The Straits Times, Selasa (20/10/2026), sepuluh perusahaan tersebut memiliki perkebunan di Sumatera Selatan dan Kalimantan, dua wilayah yang menjadi lokasi sebagian besar titik panas penyebab kabut asap.

NEA menggunakan sejumlah data untuk menelusuri sumber kebakaran, termasuk peta konsesi, citra satelit, informasi publik, kecepatan dan arah angin, serta data meteorologi untuk memperkirakan pergerakan asap menuju Singapura.

Menteri Senior Singapura K. Shanmugam sebelumnya memperingatkan perusahaan agar tidak menghindari tanggung jawab dengan berlindung di balik struktur korporasi yang kompleks. Pemerintah Singapura juga mempertimbangkan langkah ekonomi untuk menekan perusahaan terkait, termasuk melalui dampaknya terhadap keuntungan bisnis.

Empat Perusahaan Terhubung dengan Asia Pulp & Paper

Dari sepuluh perusahaan yang menerima pemberitahuan, empat di antaranya tercatat sebagai pemasok kayu untuk Asia Pulp & Paper (APP), perusahaan pulp dan kertas yang memiliki kehadiran bisnis di Singapura.

Keempat perusahaan tersebut adalah:

  1. Bumi Andalas Permai, dengan konsesi sekitar 190.000 hektare di Sumatera Selatan.
  2. Bumi Mekar Hijau, dengan konsesi sekitar 250.000 hektare di Sumatera Selatan.
  3. Sebangun Bumi Andalas Wood Industries, yang dikenal sebagai SBA Wood Industries, dengan area kerja 136.525 hektare di Sumatera Selatan.
  4. Buana Megatama Jaya, pemasok APP dengan area kerja 43.800 hektare di Kalimantan Barat.

Tiga perusahaan pertama merupakan pihak yang kembali menerima pemberitahuan hukum setelah sebelumnya masuk dalam penindakan pada krisis kabut asap 2015. Buana Megatama Jaya menerima pemberitahuan untuk pertama kalinya pada 2026.

APP merupakan bagian dari konglomerasi Sinar Mas milik keluarga Widjaja. Berdasarkan laporan keuangan 2025 yang dikutip The Straits Times, APP membukukan laba operasional US$1,65 miliar.

Menanggapi pemberitahuan kepada pemasoknya, APP menyatakan mempertahankan kebijakan tanpa pembakaran (zero-burning policy) di seluruh kegiatan operasional dan rantai pasoknya. Perusahaan uga menyebut telah menginvestasikan US$300 juta untuk pengelolaan kebakaran sejak 2015.

APP menyatakan keberadaan api di area konsesi tidak serta-merta membuktikan bahwa pemegang konsesi sengaja membakar lahan atau menjadi pihak yang memulai kebakaran. Perusahaan mengatakan akan menyelidiki dugaan pelanggaran pemasok dan dapat mengambil tindakan korektif, termasuk menghentikan hubungan bisnis jika ditemukan pelanggaran serius.

Enam Perusahaan Lain Juga Masuk Daftar

Selain empat pemasok APP, NEA menerbitkan pemberitahuan kepada enam perusahaan lain, yakni:

  1. Baratama Putra Perkasa, perusahaan perkebunan pulp di Kalimantan yang diduga memiliki hubungan dengan APP melalui sejumlah personel terkait.
  2. Paramitra Mulia Langgeng, anak usaha Sungai Budi Group dengan konsesi 70.130 hektare di Sumatera Selatan.
  3. Sumatera Alam Anugerah, perusahaan pulp dengan konsesi di Sumatera Selatan.
  4. Hutan Lestari Raya, perusahaan pulp dengan konsesi di Kepulauan Bangka Belitung.
  5. Bangkanesia, perusahaan yang bergerak di sektor pulp dan kelapa sawit dengan konsesi di Kepulauan Bangka Belitung.
  6. Mananjung Hayak, perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan konsesi di Kalimantan.

Menurut laporan tersebut, sejumlah perusahaan masuk dalam daftar titik panas yang dihimpun Greenpeace Indonesia. Bumi Mekar Hijau, misalnya, disebut memiliki 928 area yang berkontribusi terhadap kabut asap selama periode 8 Agustus hingga 18 Oktober 2026. Sementara itu, 50 titik sumber kabut asap ditemukan di konsesi SBA Wood Industries pada periode yang sama.

Data tersebut merupakan temuan yang dikutip dari analisis Greenpeace dan bukan putusan hukum yang menyatakan perusahaan-perusahaan tersebut bersalah.

Penindakan Kedua Sejak Krisis 2015

Penindakan berdasarkan THPA pada 2026 menjadi kali kedua Singapura menggunakan aturan tersebut terhadap perusahaan terkait kabut asap. Pada krisis 2015, NEA menerbitkan pemberitahuan kepada enam perusahaan. Dua kasus telah ditutup, sementara penyelidikan terhadap empat lainnya masih berlangsung.

Shanmugam menegaskan bahwa perusahaan tidak dapat menghindari pemeriksaan hanya karena perkebunan yang terbakar berada di Indonesia sementara perusahaan induk atau pihak terkait memiliki hubungan bisnis di Singapura.

Baca Juga: Singapura Semprot Pernyataan Pejabat RI soal Klaim Oksigen dari Hutan RI

Baca Juga: Kabut Asap Bikin Sesak, Singapura Ancam Hantam Pendanaan Hingga Insentif Perusahaan Pemicu Karhutla

Pemerintah Singapura juga menyatakan akan memeriksa hubungan perusahaan-perusahaan tersebut dengan entitas yang lebih besar dan mempertimbangkan tindakan terhadap korporasi di belakang pemegang konsesi.

Bagi perusahaan perkebunan dan industri berbasis sumber daya alam, perkembangan ini menambah risiko hukum, operasional, dan reputasi. Namun, pemberitahuan hukum yang diterbitkan NEA tidak dengan sendirinya berarti seluruh perusahaan tersebut telah dinyatakan bersalah.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri