- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Eks Menteri Duga Singapura Tekan MSCI agar Turunkan Kasta Pasar Saham RI: Saya Dapat Kabar...
Kredit Foto: Kementerian Perdagangan
Mantan Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi melontarkan dugaan adanya upaya menekan pasar saham Indonesia melalui lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Ia menilai ancaman penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia bisa memicu kepanikan investor dan membuka peluang bagi pemodal asing untuk membeli saham-saham Tanah Air dengan harga lebih murah.
Lutfi menduga pihak-pihak dari Singapura berada di balik tekanan tersebut. Menurutnya, perubahan status Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market) berpotensi membuat harga saham domestik terkoreksi.
Baca Juga: Mantan Menteri Sentil Singapura soal Karhutla: Indonesia Kebagian Asap, Mereka yang Untung
Eks menteri yang pernah menjabat pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo itu secara khusus menyebut Temasek dan GIC, dua perusahaan investasi asal Singapura, yang menurutnya memiliki pengaruh besar terhadap MSCI.
Lutfi bahkan mengklaim memperoleh informasi mengenai seorang petinggi GIC bernama Rachel Goh yang disebutnya berupaya menekan MSCI agar menurunkan status pasar modal Indonesia.
"Saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan," ungkap Lutfi dalam unggahan di akun Instagram, dikutip Rabu (21/10/2026).
Menurut Lutfi, ancaman perubahan klasifikasi tersebut perlu dicermati karena berpotensi memicu penurunan harga saham Indonesia. Ia menduga kondisi itu bisa dimanfaatkan investor asing yang sebelumnya telah melepas sebagian besar investasinya di pasar domestik untuk kembali masuk ketika harga aset menjadi lebih rendah.
Baca Juga: Airlangga Santai IHSG Terjun ke 4.900: Itu Biasa, MSCI Ngancam-ngancam dikit
"Dana-dana institusi asing ini sudah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia. Masalahnya, waktu mereka keluar, bursa kita tidak hancur. Karena harganya tidak turun, mereka tidak bisa masuk lagi buat beli murah," ujarnya.
Ia kemudian mengaitkan dugaan tekanan terhadap MSCI dengan kemungkinan terjadinya kepanikan di pasar saham. Dalam pandangannya, penurunan harga saham secara luas dapat membuka kesempatan bagi investor asing untuk membeli kembali aset-aset unggulan Indonesia dengan harga diskon.
"Mereka tekan MSCI untuk mengancam turunkan kasta Indonesia ke standalone market. Bikin kepanikan massal supaya indeks saham kita rontok. Lalu mereka borong kembali aset-aset terbaik Indonesia di harga diskon," imbuh Lutfi.
Meski demikian, dugaan keterlibatan pihak Singapura yang disampaikannya belum didukung bukti independen yang mengonfirmasi adanya tekanan terhadap MSCI.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: