Kredit Foto: Antara/Antara/Aditya Pradana Putra
Perum Bulog saat ini menguasai Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekitar 4,5 juta ton. Jumlah tersebut diklaim jauh melampaui angka cadangan penyangga pemerintah yang dilaporkan sejumlah negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan, besarnya stok beras yang dikelola pemerintah menjadi modal strategis untuk menjaga ketersediaan pangan masyarakat, terutama menghadapi peningkatan kebutuhan menjelang akhir tahun.
"Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras menjelang Natal dan Tahun Baru. Stok beras yang dikelola Bulog saat ini sangat memadai, mencapai sekitar 4,5 juta ton,” ujar Ahmad Rizal dalam keterangan resmi Perum Bulog, Selasa (27/10/2026).
Berdasarkan kompilasi data pangan negara-negara Asia Tenggara yang dicatat Bulog, cadangan beras Pemerintah RI menunjukkan keunggulan yang sangat signifikan.
Malaysia tercatat memiliki stok penyangga beras nasional sebesar 200.000 ton pada Agustus 2026, sedangkan cadangan beras yang tersimpan di fasilitas National Food Authority (NFA) Filipina diperkirakan sekitar 286.500 ton per 1 September 2026.
Dengan stok mencapai 4,5 juta ton, cadangan yang dikelola Bulog secara nominal sekitar 22,5 kali lipat dibandingkan stok penyangga Malaysia dan 15,7 kali lipat dibandingkan estimasi stok NFA Filipina.
Di sisi lain, Vietnam melaporkan pengadaan cadangan pangan nasional sebesar 500.000 ton sepanjang 2025, yang merupakan pencapaian tertinggi dalam sejarah pengadaan cadangan negara tersebut.
Adapun Thailand dan Myanmar belum memiliki data stok cadangan pemerintah yang cukup terkonfirmasi untuk perbandingan setara.
Sementara di Indonesia, hingga 27 Oktober 2026, realisasi pengadaan gabah dan beras dalam negeri telah mencapai 4.238.543 ton setara beras atau 105,96% dari target pemerintah sebesar 4 juta ton. Capaian ini menjadi rekor pengadaan tertinggi sepanjang sejarah Bulog.
Lebih lanjut, Ahmad Rizal menekankan kekuatan cadangan beras nasional harus diikuti dengan pengelolaan dan penyaluran yang optimal agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Menurut dia, cadangan yang besar bukan sekadar menunjukkan kemampuan negara dalam menyimpan pangan, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas harga, memperluas akses pangan, serta memberikan perlindungan bagi masyarakat ketika menghadapi tekanan pasar.
Baca Juga: Menperin Cari Jalan Keluar untuk Industri Bihun, Stok Beras Bulog Jadi Opsi
Baca Juga: Bulog Cetak Rekor 4,13 Juta Ton, Tantangan Jaga Cadangan Pangan Belum Usai
“Arahan pemerintah sangat jelas, stok yang melimpah harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, Bulog tidak hanya memastikan beras tersedia di gudang, tetapi juga mempercepat penyalurannya melalui SPHP dan bantuan pangan,” ujarnya.
Untuk itu, Bulog terus mengoptimalkan penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Bantuan Pangan Beras. Pemerintah telah menyiapkan tambahan alokasi SPHP beras sebesar 1 juta ton guna memperkuat pasokan pasar dan menjaga keterjangkauan harga.
Di sisi lain, Bantuan Pangan Beras periode Oktober–Desember 2026 kembali menyasar sekitar 33,2 juta Penerima Bantuan Pangan (PBP), masing-masing memperoleh 10 kilogram beras per bulan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Editor: Dian Ihsan