Pemilu Israel Memanas, Gadi Eisenkot dan Netanyahu Saling Klaim Kemenangan
Kredit Foto: Istimewa
Pemimpin oposisi Israel Gadi Eisenkot menyatakan hasil pemilihan umum pada Selasa (27/10/2026) menunjukkan keinginan masyarakat untuk mengubah kepemimpinan negara tersebut. Ia menilai pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah kehilangan kepercayaan publik.
“Kita telah mencetak sejarah,” kata Eisenkot, seperti dilansir Middle East Eye, Rabu (28/10/2026).
Eisenkot menyebut hasil pemungutan suara mencerminkan arah kepemimpinan yang diinginkan masyarakat Israel untuk beberapa tahun ke depan. Ia juga memperingatkan agar isu keamanan nasional tidak digunakan untuk kepentingan politik.
“Koalisi yang gagal ini telah kehilangan kepercayaan publik. Masyarakat Israel menolak kelanjutan masa jabatan Netanyahu sebagai perdana menteri. Netanyahu, jangan berani-berani menggunakan isu keamanan Israel demi kepentingan politik pribadi Anda,” ujarnya.
Eisenkot juga menilai pemilihan ulang sebaiknya dihindari mengingat tingginya partisipasi pemilih dalam pemungutan suara tersebut.
“Dalam pemilihan umum dengan tingkat partisipasi setinggi ini, akan menjadi sebuah kesalahan jika kita harus kembali mengadakan putaran pemilihan berikutnya,” tuturnya.
Di sisi lain, Netanyahu menegaskan bahwa blok sayap kanan masih memiliki dukungan kuat di kalangan pemilih Yahudi dan kelompok yang mendukung Israel sebagai negara Yahudi.
Ia menyerukan pembentukan pemerintahan nasional berhaluan kanan yang kuat.
“Blok kanan memiliki mayoritas yang signifikan dan menentukan di kalangan kelompok Yahudi serta semua pihak yang mendukung negara Yahudi, ya, mayoritas yang menentukan. Oleh karena itu, saya katakan bahwa kita harus membentuk pemerintahan nasional sayap kanan yang kuat; itulah yang harus kita lakukan,” kata Netanyahu, dikutip dari i24 News.
Netanyahu juga menolak pembentukan pemerintahan yang bergantung pada dukungan partai-partai Arab yang ia sebut anti-Zionis. Ia menuduh partai-partai tersebut menentang keberadaan Israel dan mendukung Hamas.
“Kita tidak boleh membahayakan Israel dengan membentuk pemerintahan yang bergantung pada partai-partai Arab yang anti-Zionis, partai-partai yang justru menentang keberadaan kita, mendukung Hamas, dan menyebut tentara kita sebagai pembunuh,” ujarnya.
Penghitungan Sementara: Blok Netanyahu Unggul, tetapi Belum Mayoritas
Persaingan kedua kubu masih berlangsung di tengah proses penghitungan suara. Data sementara Komite Pemilihan Umum Pusat Israel menunjukkan blok yang dipimpin Netanyahu memperoleh 56 kursi di Knesset setelah 66,2 persen kotak suara dihitung pada Rabu pagi.
Sementara itu, blok oposisi yang dipimpin Eisenkot meraih 48 kursi. Partai-partai Arab yang juga menentang Netanyahu memperoleh 16 kursi berdasarkan penghitungan sementara tersebut.
Dengan total 120 kursi di Knesset, suatu pemerintahan membutuhkan dukungan sedikitnya 61 anggota parlemen untuk memperoleh mayoritas.
Perolehan sementara itu menunjukkan belum ada blok yang secara mandiri mengamankan mayoritas untuk membentuk pemerintahan.
Sebelumnya, hasil jajak pendapat cepat atau exit poll dari sejumlah stasiun televisi Israel memperlihatkan persaingan ketat antara kedua kubu.
Channel 12 memproyeksikan blok Netanyahu memperoleh 52 kursi, sedangkan blok oposisi meraih 49 kursi. Adapun Channel 13 memperkirakan kedua kubu sama-sama memperoleh 51 kursi.
Angka tersebut merupakan proyeksi awal dan bukan hasil resmi akhir pemilihan umum.
Pemilihan umum kali ini menjadi ujian politik bagi Netanyahu setelah serangan pada 7 Oktober 2023 dan perang Israel di Gaza yang menyusulnya.
Pemungutan suara juga berlangsung ketika kekerasan di Tepi Barat yang diduduki terus meningkat dan ketegangan Israel dengan negara-negara di kawasan belum mereda.
Di tengah persaingan politik tersebut, Netanyahu menyatakan partainya, Likud, berada di jalur untuk menjadi partai dengan perolehan kursi terbesar. Ia juga menegaskan akan terus menghadapi Iran bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Namun, dalam sistem parlementer Israel, partai dengan perolehan kursi terbanyak tidak otomatis dapat membentuk pemerintahan. Pemilih memberikan suara kepada partai politik, kemudian partai-partai melakukan negosiasi untuk membentuk koalisi yang didukung mayoritas anggota Knesset.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: