Guru Besar UGM Singgung Cebong-Kampret di Aksi Sumpah Pemuda, Ingatkan Bahaya Perpecahan
Kredit Foto: Ist
Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar mengingatkan masyarakat agar tidak kembali terjebak dalam polarisasi politik seperti istilah cebong dan kampret. Menurutnya, sekat-sekat yang memecah masyarakat dapat menghambat rakyat dalam mengawasi kekuasaan.
Pernyataan yang disampaikan pria yang akrab disapa Uceng itu muncul saat berorasi dalam aksi demonstrasi memperingati Hari Sumpah Pemuda di Yogyakarta, Rabu (28/10/2026). Ia menilai semangat persatuan yang terkandung dalam Sumpah Pemuda perlu dihidupkan kembali agar masyarakat bisa menyatukan keresahan.
"Kita kan masih ingat cebong kampret, kita masih ingat cara apa? Negara lawan antek-antek asing. Kita sudah bosan dengan itu. Negara mencoba memecah kita dengan berbagai cara," kata Zainal di hadapan massa aksi.
Ia menilai masyarakat perlu menghilangkan sekat-sekat yang membuat kelompok-kelompok berbeda sulit bergerak bersama. Dengan persatuan, masyarakat diharapkan dapat menjalankan fungsi kontrol terhadap kekuasaan secara lebih memadai.
"Makanya saya kira Sumpah Pemuda Indonesia tujuannya untuk anak muda sekarang adalah bahasa persatuan, menghilangkan sekat-sekat itu. Sekat-sekat yang kemudian merusak dan membuat kita tidak bisa melakukan kontrol yang memadai terhadap kekuasaan," lanjutnya.
Zainal juga mengajak generasi muda untuk aktif menyuarakan aspirasi dan keresahan mereka. Ia mengingatkan bahwa masa depan Indonesia pada 2045 akan menjadi tanggung jawab anak muda yang saat ini perlu mengambil peran dalam kehidupan berbangsa.
"Makanya saya ingin mengajak anak muda itu harus turun sekarang. Karena masa depan kita itu milik anak muda. Indonesia apa? Cemas atau emas di 2045 itu bukan milik saya barangkali atau milik kita-kita yang sudah tua. Tapi milik anak muda," ujarnya.
Menurut Zainal, keresahan generasi muda merupakan hal yang wajar di tengah berbagai persoalan yang mereka hadapi. Namun, keresahan tersebut perlu disatukan agar tidak berhenti menjadi keluhan terpisah dan bisa menjadi kekuatan untuk mendorong perubahan.
Dalam orasinya, ia turut mengkritik sikap sebagian pejabat yang dinilainya congkak dan lalai menjalankan tanggung jawab kepada rakyat. Ia bahkan mengibaratkan kondisi yang dikritiknya seperti penjajahan oleh bangsa sendiri.
"Hari ini teman-teman sekalian, mari kita satukan, kita usir penjajah yang berbaju bangsa sendiri. Kita usir negara yang seolah berlaga mengurusi kita, padahal mengurusi kantong mereka sendiri," kata Zainal.
Baca Juga: PSI Dian Sandi Mantap Tarik Kesimpulan Foto Ijazah Jokowi Asli Bermodalkan Cerita Teman Kuliah UGM
Selain persoalan polarisasi, Zainal mengungkapkan keresahannya sebagai akademisi terhadap praktik penyelenggaraan negara. Ia menilai prinsip checks and balances, pembentukan undang-undang, serta pelaksanaan hukum belum berjalan sebagaimana teori yang selama ini diajarkan di perguruan tinggi.
Ia berharap momentum Sumpah Pemuda menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memperkuat persatuan sekaligus mendorong perbaikan. Menurutnya, gerakan bersama diperlukan agar rakyat tetap mampu menjalankan perannya dalam mengawasi kekuasaan.
"Saya kira harus lebih besar dan semakin membesar. Harus semakin membesar, kenapa? Karena harus kita tunjukkan bahwa kita masih punya kedaulatan itu di tangan kita. Kedaulatan itu enggak pernah pindah. Kita sebenarnya yang berdaulat," tegasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama