Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

PT Vale Tarik Utang US$175 Juta, Arus Kas Operasi Justru Turun

PT Vale Tarik Utang US$175 Juta, Arus Kas Operasi Justru Turun Kredit Foto: Vale Indonesia
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencairkan pinjaman bank sebesar US$175 juta atau sekitar Rp2,9 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Penarikan dana tersebut dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan belanja modal perusahaan, sementara arus kas dari aktivitas operasi justru mengalami penurunan 44,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan interim per 30 September 2026, PT Vale mencatatkan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar US$103,99 juta. Jumlah tersebut turun dibandingkan US$188,52 juta pada Januari-September 2025.

Penurunan arus kas operasi terjadi meskipun penerimaan kas dari pelanggan meningkat menjadi US$872,35 juta dari sebelumnya US$710,63 juta. Namun, peningkatan penerimaan tersebut diikuti kenaikan sejumlah pengeluaran operasional, termasuk pembayaran kepada pemasok, pajak, royalti, dan penempatan jaminan keuangan.

Dalam laporan arus kas, pembayaran kepada pemasok mencapai US$441,63 juta, meningkat dibandingkan US$382 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pembayaran royalti dan retribusi juga melonjak menjadi US$101,63 juta dari US$53,11 juta.

Selain itu, perusahaan mencatatkan penempatan jaminan keuangan sebesar US$53,67 juta, sedangkan pada periode Januari-September 2025 tidak terdapat pengeluaran untuk pos tersebut. Penerimaan restitusi pajak juga turun menjadi US$17,05 juta dari US$63,99 juta.

Di sisi lain, kebutuhan investasi PT Vale terus meningkat. Perusahaan mengeluarkan belanja modal sebesar US$350,16 juta sepanjang sembilan bulan pertama 2026, naik sekitar 5,6% dibandingkan US$331,44 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan demikian, arus kas operasi perusahaan hanya mampu menutup sekitar 29,7% dari belanja modal selama periode tersebut. Selisih antara kas yang dihasilkan dari aktivitas operasi dan pembayaran pembelian aset tetap mencapai sekitar US$246,17 juta.

Kondisi tersebut menjadi salah satu konteks penting di balik langkah PT Vale memanfaatkan fasilitas pinjaman bank untuk mendukung kegiatan operasional dan pengembangan proyek perusahaan.

Dalam catatan atas laporan keuangan interim, PT Vale menyebut telah menandatangani perjanjian fasilitas pinjaman pada 25 Maret 2026 dengan sejumlah bank, yakni United Overseas Bank Limited, DBS Bank Ltd., PT Bank DBS Indonesia, Mizuho Bank Ltd., dan PT Bank Mizuho Indonesia.

Perjanjian tersebut menyediakan fasilitas kredit sebesar US$500 juta dengan opsi penambahan melalui mekanisme greenshoe hingga US$750 juta. Fasilitas tersebut memiliki tenor dua tahun dengan opsi perpanjangan satu tahun dan menggunakan suku bunga mengambang berdasarkan Term Secured Overnight Financing Rate (SOFR) ditambah persentase tertentu.

PT Vale kemudian menandatangani perjanjian sindikasi pada 23 April 2026 bersama sejumlah lembaga keuangan lainnya. Melalui fasilitas tersebut, perusahaan melakukan pencairan pinjaman pada 15 Juli dan 14 September 2026 dengan total US$175 juta.

Dalam catatan yang sama, PT Vale menjelaskan bahwa dana pinjaman tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan operasional dan proyek pengembangan perusahaan. Perusahaan juga mencatatkan beban keuangan sebesar US$2,2 juta dari pinjaman bank jangka panjang tersebut hingga 30 September 2026.

Fasilitas pinjaman tersebut dikenakan tingkat bunga berkisar 3,87%-4% selama periode pelaporan. Per 30 September 2026, seluruh pencairan pinjaman sebesar US$175 juta tercatat sebagai pinjaman bank jangka panjang dalam laporan posisi keuangan perusahaan.

Dari sisi arus kas pendanaan, PT Vale membukukan arus kas bersih positif sebesar US$123,06 juta sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Capaian tersebut berbalik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya ketika perusahaan mencatatkan arus kas bersih negatif sebesar US$34,87 juta.

Penerimaan pinjaman bank sebesar US$175 juta menjadi kontributor utama arus kas pendanaan tersebut. Namun, perusahaan juga mengeluarkan pembayaran dividen sebesar US$45,64 juta, pembayaran liabilitas sewa US$5,30 juta, serta pembayaran beban keuangan US$999.000.

Baca Juga: Penjualan Bijih Nikel PT Vale Melonjak 387%, Ini Pembeli dan Jalur Pasoknya

Baca Juga: DPR Sentil Vale dan Perusahaan Tambang, CSR Dinilai Tak Sinkron dengan Kebutuhan Daerah

Sementara itu, kas dan setara kas PT Vale tercatat sebesar US$247,31 juta per 30 September 2026. Posisi tersebut turun dibandingkan US$376,36 juta pada awal tahun, meskipun meningkat dari US$110,66 juta pada akhir Juni 2026.

Kenaikan kas pada kuartal III 2026 berlangsung bersamaan dengan pencairan pinjaman bank sebesar US$175 juta. Pada periode yang sama, perusahaan mencatatkan arus kas operasi positif sebesar US$65,59 juta dan menggunakan US$95,04 juta untuk aktivitas investasi.

Dalam siaran pers kinerja kuartal III 2026, PT Vale menyatakan bahwa penarikan pinjaman tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan belanja modal pemeliharaan dan inisiatif pertumbuhan jangka panjang. Perusahaan juga merealisasikan belanja modal sekitar US$95 juta selama kuartal III 2026 untuk menjaga keberlangsungan operasi dan mempercepat proyek-proyek strategis.

Dengan kebutuhan investasi yang masih besar, PT Vale perlu menjaga keseimbangan antara pendanaan eksternal, kemampuan menghasilkan kas dari kegiatan operasional, dan realisasi proyek pengembangan. Kondisi tersebut menjadi penting agar ekspansi perusahaan tetap berjalan tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap struktur keuangan dalam jangka panjang.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra