Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Subsidi Energi dan Bencana Jadi Tekanan dalam Pengelolaan APBN 2026

Subsidi Energi dan Bencana Jadi Tekanan dalam Pengelolaan APBN 2026 Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, mengatakan Subsidi Energi dan bencana menjadi tekanan tambahan dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Kondisi tersebut mendorong pemerintah menyesuaikan alokasi belanja negara di tengah upaya menjaga aktivitas ekonomi.

Kebutuhan belanja pemerintah tahun ini meningkat dibandingkan perencanaan awal. Salah satu tambahan kebutuhan tersebut dialokasikan untuk penanganan bencana dengan nilai sekitar Rp60 triliun.

“Ada yang tidak bisa kita prediksi, yang kita gak pernah bayangkan kita gak pernah rencanakan, kita tidak pernah anggarkan namanya bencana alam,”  ujar Suahasil dalam Rapimnas Kadin, Jumat (30/10/2026).

Di luar kebutuhan penanganan bencana, pemerintah juga menghadapi tambahan belanja untuk subsidi dan kompensasi energi, termasuk bahan bakar minyak (BBM). Kebutuhan ini muncul di tengah gejolak global yang turut mempengaruhi harga energi.

“Di samping itu kita juga ada beberapa tambahan belanja, terutama untuk subsidi dan kompensasi energi, BBM, dan yang lain,” 

Peningkatan kebutuhan belanja tersebut turut mengubah proyeksi APBN 2026. Suahasil menyebut belanja negara yang semula direncanakan sekitar Rp3.843 triliun diperkirakan meningkat menjadi Rp3.942 triliun.

Baca Juga: Suahasil Ingatkan Pramono soal Kondisi Pasar Sebelum Terbitkan Obligasi Daerah

Baca Juga: Bantah Kemenkop, Suhasil Sebut Skema Transfer Gaji PNS Tetap Lewat Bank Bukan Koperasi

Di sisi penerimaan, Suahasil memperkirakan pendapatan negara meningkat sekitar Rp50 triliun dari perencanaan awal. Sementara itu, penerimaan pajak yang telah mencapai sekitar Rp1.600 triliun disebut tumbuh 24,1%.

Dengan kebutuhan belanja yang meningkat, pengelolaan APBN menjadi semakin penting agar respons terhadap tekanan ekonomi tidak mengganggu upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra