Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 mencapai Rp734,3 triliun atau setara 2,85% dari produk domestik bruto (PDB). Proyeksi ini lebih tinggi dibandingkan target awal sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% dari PDB.
Dia menjelaskan, pelebaran defisit sejalan dengan meningkatnya kebutuhan belanja negara. Pemerintah harus menanggung tambahan pengeluaran untuk menangani bencana alam sekaligus meredam dampak kenaikan harga energi global.
Suahasil menyampaikan bahwa total kebutuhan belanja pemerintah meningkat sekitar Rp300 triliun. Kenaikan tersebut membuat pemerintah perlu menyesuaikan sejumlah pos anggaran.
“Salah satu kebutuhan tambahan belanja berasal dari penanganan bencana. Pemerintah telah mengalokasikan sekitar Rp60 triliun untuk menangani bencana di wilayah Sumatera bagian utara dan sejumlah daerah lain, termasuk kebakaran hutan karhutla,” jelasnya Dalam Rapimnas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Jakarta, Jumat (30/10/2026)
Di luar itu, anggaran negara juga menghadapi tekanan dari subsidi dan kompensasi energi, terutama untuk bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan subsidi tersebut menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menahan dampak kenaikan harga energi terhadap masyarakat.
“Di samping itu kita juga ada beberapa tambahan belanja, terutama untuk subsidi dan kompensasi energi, BBM, dan yang lain,” kata Suahasil.
Semula, belanja negara dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar Rp3.843 triliun. Pemerintah kemudian memperkirakan belanja hingga akhir tahun mencapai Rp3.942 triliun, atau naik secara bersih sekitar Rp 99 triliun dari anggaran awal.
Untuk mengimbangi kebutuhan tersebut, pemerintah berupaya meningkatkan penerimaan negara. Target pendapatan diproyeksikan naik sekitar Rp54 triliun, dari Rp3.154 triliun menjadi Rp3.208 triliun hingga akhir 2026.
Selain mengupayakan tambahan penerimaan, pemerintah juga menata ulang penggunaan anggaran. Suahasil menyebut nilai anggaran yang telah digeser dari satu pos ke pos lain mendekati Rp200 triliun.
Baca Juga: Restitusi Pajak Diperketat, Suahasil Justru Minta Pencairan untuk Industri Ini Dipercepat
Baca Juga: Menlu Singapura Temui Suahasil Nazara, Ada Agenda Apa di Kemenkeu?
“Dalam skala belanja Rp3.843 triliun itu, mungkin sekarang sudah hampir Rp200 triliun yang kami geser-geser,” ujarnya.
Meski target pendapatan dinaikkan, tambahan penerimaan tersebut belum sepenuhnya menutup kebutuhan belanja yang meningkat. Karena itu, proyeksi defisit ikut disesuaikan menjadi Rp 734,3 triliun, atau bertambah sekitar Rp 45,2 triliun dari target semula.
Suahasil menegaskan, peningkatan belanja harus diikuti pengelolaan pendapatan dan pembiayaan yang terukur agar kredibilitas fiskal tetap terjaga.
“Belanjanya meningkat, maka pendapatan harus meningkat, defisitnya kita naikkan, tetapi pembiayaannya kita buat supaya tetap kredibel,” tuturnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra