Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ekonom Allianz Buka Suara soal Ekonomi RI, Harga Energi dan Rupiah Jadi Ancaman

Ekonom Allianz Buka Suara soal Ekonomi RI, Harga Energi dan Rupiah Jadi Ancaman Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indonesia dinilai masih memiliki modal kuat untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Namun, peluang tersebut tidak lepas dari sejumlah risiko, terutama lonjakan harga energi dan gejolak nilai tukar yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dalam jangka pendek.

Global Chief Economist Allianz Global Investors, Christian Schulz memandang Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan ekonomi yang cukup besar. Menurutnya, berbagai tekanan dari luar negeri tidak serta-merta menghapus daya tarik ekonomi Indonesia untuk jangka panjang.

Dia bahkan menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4% pada tahun ini sebagai pencapaian yang menarik. Angka tersebut tergolong tinggi jika dibandingkan dengan kondisi sejumlah negara maju, terutama di Eropa yang masih kesulitan mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas 5%.

“Sebagai orang Eropa, pertumbuhan di atas 5% membuat saya sangat iri. Di Eropa, kami sudah lama tidak melihat pertumbuhan seperti itu,” ujar Schulz dalam Allianz Global Investors Indonesia Media Roundtable bertajuk "Looking Ahead to 2027: Global Trends, Indonesia Opportunities", Senin (2/11/2026).

Schulz menjelaskan, negara berkembang atau emerging markets memiliki keuntungan dari peluang mengejar ketertinggalan ekonomi negara maju. Selain itu, perkembangan teknologi juga membuka kesempatan untuk meningkatkan produktivitas dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Peringatan Keras Hashim Djojohadikusumo: IHSG Hancur dari Dalam, Bukan Karena MSCI

Salah satu peluang yang patut diperhitungkan adalah derasnya investasi di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kawasan Asia. Manfaat dari perkembangan teknologi ini diperkirakan tidak hanya terkonsentrasi di negara pengembang utama seperti Korea Selatan dan Taiwan, tetapi juga dapat menjangkau negara-negara lain di kawasan.

Menurut Schulz, peluang terbesar akan muncul ketika penggunaan AI mulai memberikan dampak nyata terhadap produktivitas perusahaan dan berbagai sektor ekonomi.

Harga Energi Mahal Bisa Tambah Beban Ekonomi RI

Di balik peluang pertumbuhan tersebut, Indonesia masih perlu mewaspadai tekanan dari pasar global. Schulz mengidentifikasi mahalnya energi dan tingginya suku bunga di Amerika Serikat (AS) sebagai dua persoalan yang dapat memengaruhi kondisi ekonomi domestik.

Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tagihan impor Indonesia sekaligus meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi. Jika berlangsung berkepanjangan, kondisi ini dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah dalam membiayai berbagai program pembangunan.

Tekanan lainnya datang dari kebijakan suku bunga AS. Ketika suku bunga di negara tersebut bertahan tinggi, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat. Jika rupiah melemah, biaya pembelian barang dari luar negeri juga menjadi lebih mahal.

Schulz memperkirakan harga energi masih berpotensi bertahan tinggi. Artinya, pemerintah tidak bisa menganggap tekanan tersebut sebagai persoalan sementara yang akan segera berlalu.

Penyesuaian kebijakan fiskal pun diperlukan agar kondisi anggaran tetap terkendali. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pemerintah mengelola subsidi energi di tengah perubahan harga komoditas global.

Meski demikian, Schulz tidak melihat tantangan tersebut sebagai alasan untuk meragukan prospek Indonesia. Sebaliknya, tekanan yang muncul justru dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperbaiki kebijakan dan memperkuat fondasi ekonomi.

“Permasalahan ini dapat diatasi. Bahkan, kondisi tersebut menjadi peluang untuk melakukan sejumlah perubahan yang manfaatnya akan terasa dalam jangka panjang dan membantu Indonesia naik ke tingkat pembangunan berikutnya,” jelasnya.

MSCI Jadi Momentum Berbenah

Tak hanya persoalan ekonomi makro, Schulz juga menyinggung tantangan Indonesia dalam meningkatkan daya saing pasar modal di mata investor internasional, termasuk persoalan yang berkaitan dengan MSCI.

Dia menilai, besarnya perekonomian Indonesia dan potensi pertumbuhannya seharusnya menjadi modal untuk memperoleh posisi yang lebih kuat dalam indeks saham global.

Karena itu, berbagai persoalan yang membatasi daya tarik pasar modal Indonesia perlu ditangani secara serius. Pembenahan diperlukan agar pasar saham domestik semakin transparan, kredibel, dan mampu memenuhi standar yang dibutuhkan investor global.

Baca Juga: Komdigi Soroti Ketimpangan Ekonomi Digital, Infrastruktur Lokal Tanggung Beban Besar

Baca Juga: Selat Hormuz Jadi Penentu Nasib Ekonomi Timur Tengah pada 2027

Schulz berpandangan, perbaikan tersebut bukan hanya menguntungkan Indonesia sebagai pasar investasi, melainkan juga MSCI sebagai penyedia indeks global. Keduanya memiliki kepentingan untuk memastikan pasar modal Indonesia berkembang dengan standar yang semakin baik.

“Jika ada masalah, masalah tersebut bisa diperbaiki. Ketika sudah diperbaiki, saya pikir hal itu akan memberikan manfaat besar bagi Indonesia, tetapi juga bagi MSCI. Ada kepentingan bersama untuk menyelesaikan persoalan ini,” ungkap Schulz.

Dia pun optimistis persoalan tersebut dapat diselesaikan dan menjadi titik awal bagi Indonesia untuk membangun pasar modal yang lebih kuat serta meningkatkan kepercayaan investor internasional.

Pada akhirnya, Schulz mengingatkan bahwa peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu diimbangi dengan keberanian pemerintah mengambil keputusan strategis. Pengelolaan anggaran di tengah mahalnya energi, stabilitas nilai tukar, dan pembenahan pasar modal menjadi sejumlah pekerjaan penting agar momentum pertumbuhan tidak terhambat oleh tekanan global.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan