Kredit Foto: Istimewa
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyoroti lonjakan harga minyak dunia yang meningkatkan tekanan biaya energi di Indonesia. Dampaknya mulai dirasakan masyarakat melalui penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, dengan kenaikan tertinggi mencapai 20,30% pada September 2026.
Dalam laporan berjudul Daya Beli di Persimpangan: Antara Inflasi, Upah, dan Tekanan Rumah Tangga edisi Oktober 2026, INDEF mencatat harga minyak mentah Brent meningkat dari sekitar US$63 per barel pada akhir 2025 menjadi US$117,2 per barel saat eskalasi konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran pada Maret 2026. Setelah sempat turun, harga kembali mencapai US$114,2 per barel pada September 2026.
Tekanan serupa terlihat pada harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP). Rata-rata ICP sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai US$91,86 per barel, lebih tinggi US$21,86 dibandingkan asumsi dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Pada September 2026, ICP bahkan menyentuh US$112,81 per barel.
“Pergerakan harga minyak sangat menentukan biaya impor Indonesia, mengingat energi merupakan komponen impor terbesar,” tulis INDEF dalam laporannya, Senin (2/11/2026).
Kenaikan harga minyak tersebut diikuti penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada September 2026. Harga Dexlite naik 20,30% dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter. Harga Dex meningkat 19,15% dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus US$111, Kemenhub Tahan Fuel Surcharge Pesawat di 40%
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Defisit APBN 2026 Berpotensi Membengkak Hingga Rp782,2 Triliun
Sementara itu, Pertamax Green 95 naik 15,36% menjadi Rp19.150 per liter, sedangkan Pertamax Turbo RON 98 meningkat 7,10% menjadi Rp19.600 per liter.
INDEF juga mengingatkan kenaikan harga solar nonsubsidi berpotensi menambah beban sektor transportasi dan distribusi. Peningkatan biaya bahan bakar dapat merambat ke ongkos pengiriman barang, termasuk komoditas pangan.
“Kenaikan solar nonsubsidi yang lebih tajam berpotensi menambah biaya logistik dan distribusi, termasuk untuk bahan pangan,” tulis INDEF.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: