Kredit Foto: Antara/Mohammad Ayudha
Sebanyak 530 rumah warga pada 17 kecamatan di Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat, belum teraliri listrik.
"Data tersebut yang kami peroleh setelah prajurit dikerahkan untuk pendataan," kata Dandim 0308 Pariaman Letkol Arh. Hermawansyah di Parit Malintang, Sabtu.
Ia mengatakan bahwa pendataan tersebut merupakan tindak lanjut dari program Bukit Barisan Bersinar yang digagas oleh Kodam I Bukit Barisan.
Dari pendataan tersebut, lanjut dia, ditemukan rumah yang tidak teraliri listrik disebabkan oleh dua faktor, yaitu karena kabel Perusahaan Listrik Negara (PLN) tidak terpasang di daerahnya dan pemiliknya tidak memiliki uang untuk membiayai pemasangan instalisasi listrik.
Hermawansyah memandang perlu pendataan lebih lanjut dari instansi terkait karena jumlah 530 rumah tersebut kemungkinan bisa bertambah.
Ia menyebutkan 175 rumah dari 530 rumah tersebut akan mendapatkan bantuan paket penerangan dari Yayasan Nawacita melalui program Listrik Mandiri Rakyat (Limar) yang dananya bersumber dari PT Semen Padang.
"Paket penerangan untuk 175 rumah tersebut akan diserahkan pada tanggal 10 Agustus nanti," katanya.
Bantuan penerangan tersebut terdiri atas lampu, aki, kotak panel, dan genset. Masing-masing rumah mendapatkan satu paket penerangan yang harganya diperkirakan sekitar Rp3 juta per paket.
Untuk memastikan angka tersebut, Wakil Bupati Padangpariaman Suhatri Bur mengatakan bahwa pihaknya akan memerintahkan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa setempat, pemerintahan tingkat kecamatan, dan nagari untuk berkoordinasi dengan pihak Kodim 0308 Pariaman.
Koordinasi tersebut dimaksudkan untuk mencari data akhir dari jumlah rumah yang belum teraliri listrik.
Data itu akan menjadi modal pihaknya untuk meminta bantuan kepada perusahaan serta Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah di wilayah itu.
Sementara itu, Ramalah (75), warga Korong Ladang Laweh, Nagari Sicincin, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung, mengharapkan bantuan peralatan penerangan di rumahnya.
"Saya tinggal dengan cucu dan penerangan saya hanya menggunakan petromaks," katanya.
Untuk menyalakan petromaks, dia membutuhkan minyak tanah yang harganya Rp12 ribu per liter dan bertahan sampai 5 hari.
Ketika akan membeli minyak tanah tersebut, dia menitipkan kepada orang yang berladang di daerah itu.
"Namun, jika orang itu tidak datang ke ladang, terpaksa tanpa penerangan," katanya.
Ia mengatakan bahwa dirinya tidak bisa pindah ke daerah lain karena tanahnya hanya di situ dan tidak memiliki uang untuk membeli lahan atau menyewa rumah yang dilewati kabel PLN.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: