Kredit Foto: Azka Elfriza
Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) telah mencapai titik terendah dan berpotensi menjadi momentum pembalikan arah menuju penguatan. BI menilai pergerakan rupiah saat ini sudah terlalu terdepresiasi sehingga membuka ruang bagi rupiah untuk mencari level keseimbangan baru.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, tren pergerakan rupiah menunjukkan indikasi overshootakibat tekanan global dan domestik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Namun, kondisi tersebut dinilai sudah berada pada fase yang berlebihan.
“Karena pergerakan rupiahnya trennya sekarang ini bergerak sudah, kalau kami melihat ini sudah too depreciate (sudah terlalu melemah) gitu. Jadi, it’s time actually untuk rupiah bisa mencari level barunya,” ujar Destry Jakarta, Kamis (23/1/2026).
Baca Juga: Bos BI Tak Menampik Penyebab Rupiah Ambruk Karena Pencalonan Deputi Gubernur
Destry menjelaskan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah tidak dipicu oleh satu faktor tunggal. Ketidakpastian global, termasuk dinamika pasar keuangan internasional, mendorong volatilitas nilai tukar. Di sisi lain, faktor domestik juga menuntut respons kebijakan yang cepat dan terukur untuk menjaga stabilitas.
Untuk meredam volatilitas tersebut, BI menyiapkan sejumlah langkah yang dirangkum dalam kebijakan smart intervention. Kebijakan ini mencakup intervensi terukur di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pasar spot valuta asing, serta pasar surat berharga negara (SBN), tanpa mengganggu mekanisme pasar.
“NDF dan DNDF adalah forward transaction untuk hedging. Jadi kalau rupiahnya lagi gonjang ganjing, kalau enggak butuh spot sekarang, butuh nanti buat misalnya pembayaran utang, beli saja dulu DNDF atau NDF,” jelas Destry.
Baca Juga: Rupiah Lengket ke Rp17.000, BI Gencarkan Intervensi Pasar
Selain intervensi di pasar valas, BI juga melakukan pembelian SBN saat terjadi arus keluar modal asing. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus menopang kepercayaan pelaku pasar terhadap rupiah di tengah tekanan global.
“Jadi belum lagi kita akan optimalkan berbagai instrumen berbagai operasi moneter kami dengan tujuan utama yaitu bagaimana menjaga stabilitas rupiah itu sendiri,” tegasnya.
BI menegaskan, seluruh langkah kebijakan tersebut diarahkan untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga, sejalan dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional di tengah dinamika ekonomi global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: