Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Hashim Soroti Ada Saham PE Ribuan Kali, Begini Penjelasan Analis

Hashim Soroti Ada Saham PE Ribuan Kali, Begini Penjelasan Analis Kredit Foto: Uswah Hasanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat pasar modal, William Hartanto menilai harga saham perusahaan yang diperdagangkan dengan rasio price to earnings (PE) mencapai ratusan hingga ribuan kali merupakan hal wajar. 

Hal ini, merespons pernyataan Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, yang menganggap PE ribuan kali tidak wajar dan menjadi sinyal peringatan (red flag).

William menuturkan tingginya angka PE ratio tidak serta-merta menunjukkan adanya kesalahan sistemik atau praktik goreng-menggoreng saham. Menurutnya ada beberapa faktor fundamental dan psikologis yang mendasari mengapa sebuah saham bisa dihargai sangat mahal oleh pasar.

"Enggak bisa dibilang salah juga sebenernya, karena PE itu dihiung dari laporan keuangan historis, yang mana bisa berubah pada rilis laporan keuangan sebelumnya," jelas dia kepada wartaekonomi, Kamis (12/2/2026).

Founder WH-Project itu menjelaskan sebuah perusahaan bisa saja mencatatkan rugi atau laba kecil hari ini sehingga PE terlihat tinggi, namun diproyeksikan mencetak laba besar di masa depan.

Jika kinerja perusahaan tumbuh menyusul kenaikan harga saham, kata William, maka valuasi yang tadinya terlihat mahal akan berangsur-angsur menjadi murah secara rasio di kemudian hari.

"Jadi kalau PE sekarang tinggi, bisa jadi di masa yang akan datang jadi murah karena kinerja yang turut bertumbuh menyusul performa harga saham," jelas dia.

William melanjutkan, pergerakan harga saham di lapangan sering kali lebih didorong oleh hukum permintaan dan penawaran diikuti oleh adanya momentum. Selama momentum masih ada dan pelaku pasar tetap optimis, maka harga akan terus merangkak naik tanpa memedulikan batas valuasi wajar.

"Kondisi ini akan terus berlanjut sampai pada waktunya ada momentum di saham baru dan kemudian saham sebelumnya dilupakan, barulah saat itu harga saham akan kembali ke valuasi wajarnya," jelas dia.

Untuk itu, kata William, penting membedakan antara manipulasi harga dengan antusiasme organik. Dia menyebut kenaikan harga adalah konsekuensi logis dari transaksi yang masif.

"Jadi kenaikan harga saham tidak selalu karena aksi goreng melainkan karena kehendak pelaku pasarnya sendiri untuk terus mentransaksikan sahamnya, semakin kuat demand nya semakin berlanjut kenaikan harganya," jelas dia.

Sebelumnya Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, menilai lonjakan PE yang ekstrem menjadi indikasi kuat adanya distorsi harga dan praktik pasar yang tidak sehat.

“Ketika ada perusahaan dengan PE 167, bahkan 900, 1.200, sampai 4.000 kali, itu ada sesuatu yang salah. Waspada terhadap anomali semacam ini karena itu adalah red flag Penipuan dan kecurangan pasti ada, dan tugas regulator adalah mencegahnya,” kata Hashim di Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Menurut Hashim, kondisi tersebut membuat banyak investor terjebak membeli saham dengan valuasi yang tidak mencerminkan fundamental perusahaan. Akibatnya, ketika koreksi terjadi, investor ritel menjadi pihak yang paling terdampak.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Amry Nur Hidayat

Bagikan Artikel: