Kredit Foto: SCG
Siam Cement Group (SCG), raksasa industri asal Thailand, membukukan EBITDA Penyesuaian sebesar Rp28,872 triliun, sepanjang tahun fiskal 2025.
Angka ini mencerminkan kenaikan 6% (YoY) di tengah volatilitas pasar global dan fluktuasi biaya energi yang menekan sektor petrokimia.
Di sisi lain, SCG berhasil memangkas utang bersih sebesar Rp7,791 triliun, yang berdampak langsung pada perbaikan rasio utang bersih terhadap EBITDA menjadi 5,5 kali, turun dari posisi sebelumnya di angka 6,3 kali.
Capaian positif ini merupakan hasil dari strategi 'bersih-bersih' portofolio.
SCG tercatat menghentikan unit bisnis yang tidak produktif, dan menjalankan efisiensi biaya yang menghasilkan penghematan tetap sebesar Rp2,256 triliun per tahun.
CEO SCG, Thammasak Sethaudom, menegaskan disiplin keuangan menjadi jangkar perusahaan dalam menavigasi perlambatan ekonomi di Thailand dan dinamika geopolitik global.
Baca Juga: Target 75 Juta Ton di Semester I, Pemerintah Kerek DMO Batu Bara untuk PKP2B-BUMN 30%
“Hasil ini mencerminkan disiplin keuangan perusahaan yang ketat, manajemen biaya yang efisien, restrukturisasi operasional, serta langkah penghematan biaya yang mencapai lebih dari Rp2,256 triliun per tahun."
"SCG juga terus berkomitmen memberikan imbal hasil yang berkelanjutan bagi para pemegang saham,” ujar Thammasak dalam keterangan resmi, Jumat (13/2/2026).
Di level regional, Indonesia mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung pertumbuhan SCG, dengan mencatatkan kenaikan penjualan sebesar 15%.
Performa ini didorong oleh penetrasi produk bernilai tambah tinggi (High Value Added), dan Green Products yang mulai mendominasi pasar domestik.
Sepanjang 2025, SCG di Indonesia melakukan beberapa langkah strategis, di antaranya melakukan ekspansi anorganik dengan mengakuisisi 100% saham PT Prokemas Adhikari Kreasi (MYPAK) senilai Rp467 miliar oleh unit bisnis kemasan (SCGP).
Perusahaan juga menunjukkan komitmen pada green industriy, dengan mengembangkan Low Carbon Cement generasi terbaru dan sinergi ekonomi sirkular melalui model PPPP (Public, Private, People Partnership).
Proyeksi 2026: Fokus pada Inovasi Hijau
Menatap tahun 2026, SCG bersiap memperkuat infrastruktur energi bersih melalui anak usahanya, SCG Cleanergy, yang mengintegrasikan Generative AI untuk akurasi prakiraan energi dan teknologi Heat Battery.
Di sektor semen dan bahan bangunan, perusahaan akan mengakselerasi pemasaran Green Cement kualitas tinggi, untuk menangkap peluang proyek infrastruktur regional.
Sementara di sektor kimia (SCGC), fokus dialihkan pada optimalisasi proyek operasional Long Son Petrochemicals (LSP) di Vietnam dengan target porsi produk HVA di atas 60%.
“Kami optimis SCG berada dalam kondisi yang semakin intens, semakin kuat, semakin kokoh, dan semakin tangguh,” tutur Thammasak. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: