Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ketidakpastian Global Tinggi, OJK Pastikan Sektor Jasa Keuangan Aman

        Ketidakpastian Global Tinggi, OJK Pastikan Sektor Jasa Keuangan Aman Kredit Foto: Uswah Hasanah
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menegaskan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya tensi perdagangan global. Kondisi tersebut ditopang oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta profil risiko yang masih terkendali.

        “Dapat kami sampaikan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan nasional terjaga stabil di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik dan tensi perdagangan global. Hal itu didukung oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, profil risiko yang manageable, serta kinerja sektor jasa keuangan yang tetap kuat,” ujar Mahendra dalam Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Tahun 2026 di Kementerian Keuangan, Senin (27/1/2026).

        Mahendra menyampaikan, kinerja intermediasi perbankan sepanjang 2025 tetap tumbuh positif dengan risiko yang terjaga. Kredit perbankan pada Desember 2025 tumbuh 9,6% secara year-on-year (yoy) menjadi Rp8.585 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang kredit investasi yang melonjak 20,81%, diikuti kredit konsumsi 6,58%, sementara kredit modal kerja tumbuh 4,52%.

        Baca Juga: Meski Global Bergejolak, KSSK Optimistis Ekonomi RI Tetap Tumbuh 5,4%

        Dari sisi kualitas aset, perbankan masih mencatatkan kondisi yang solid. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross berada di level 2,05% dan NPL net 0,79%. Adapun Loan at Risk relatif stabil di posisi 8,72% secara tahunan.

        Likuiditas perbankan juga dinilai memadai. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,83% yoy menjadi Rp10.059 triliun. Pertumbuhan DPK ditopang kenaikan giro sebesar 19,13%, tabungan 8,19%, dan deposito 14,28%.

        Ketahanan permodalan perbankan tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) yang berada di level tinggi, yakni 25,87% per Desember 2025. Sementara itu, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 85,35%. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid terhadap DPK (AL/DPK) masing-masing mencapai 126,56% dan 28,50%, jauh di atas ambang batas yang ditetapkan regulator.

        Di pasar modal, kinerja saham domestik menunjukkan penguatan pada Triwulan IV 2025 seiring terjaganya fundamental ekonomi dan membaiknya sentimen global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 8.646,94 per 30 Desember 2025, menguat 7,27% secara kuartalan dan 22,13% secara tahunan. Penguatan tersebut ditopang peningkatan rata-rata nilai transaksi harian serta aksi beli bersih investor nonresiden sebesar Rp37,4 triliun.

        Penghimpunan dana di pasar modal juga berlanjut positif. Sepanjang 2025, nilai penawaran umum mencapai Rp274,8 triliun, meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp259,24 triliun.

        Baca Juga: Momentum Ramadan-Idulfitri, OJK Proyeksikan Kredit di Kuartal I 2026 Tumbuh Positif

        Pada sektor perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun, total aset industri asuransi per Desember 2025 mencapai Rp1.201,96 triliun atau tumbuh 6,01%. Tingkat permodalan industri asuransi komersial tetap memadai dengan Risk-Based Capital (RBC) asuransi jiwa sebesar 485,9%, serta asuransi umum dan reasuransi 335,22%, jauh di atas ambang batas 120%.

        Aset dana pensiun tumbuh 11,35% menjadi Rp1.679,46 triliun, termasuk dana pensiun program sukarela sebesar Rp411,29 triliun. Sementara itu, total aset perusahaan penjaminan tumbuh 2,42% menjadi Rp47,51 triliun.

        Di sektor lembaga pembiayaan dan jasa keuangan lainnya, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tercatat Rp506,5 triliun atau tumbuh 0,61% yoy, ditopang pembiayaan modal kerja yang meningkat 10,06%. Profil risiko terjaga dengan Non-Performing Financing (NPF) gross 2,51% dan net 0,77%, serta gearing ratio di level 2,18 kali.

        Sementara itu, hingga Desember 2025 terdapat 1.373 aset kripto yang diperdagangkan. OJK telah memberikan izin kepada 29 entitas di ekosistem perdagangan aset kripto. Jumlah konsumen aset kripto meningkat menjadi 20,19 juta dengan nilai transaksi pada Desember 2025 mencapai Rp32,68 triliun.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: