Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Saham BELL Ngacir Berujung Suspensi, Manajemen Buka Suara!

        Saham BELL Ngacir Berujung Suspensi, Manajemen Buka Suara! Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) angkat bicara terkait lonjakan harga saham perseroan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dan berujung pada penghentian sementara perdagangan (suspensi) pada 22 Januari lalu.

        Sebelum disuspensi, saham BELL ditutup melonjak 34,46% ke level Rp199. Dalam sepekan, penguatannya tercatat mencapai 51,91%, bahkan secara bulanan melesat hingga 188,41%.

        Direktur BELL, Heru Jatmiko Harrianto, dalam keterbukaan informasi yang dilansir Rabu (28/1), menilai sentimen eksternal menjadi pemicu reli saham tersebut.

        “Menurut kami, berita yang menyatakan bahwa pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp101 triliun untuk menopang dan membangkitkan industri tekstil nasional menjadi penyebab utama naiknya harga saham Perseroan,” kata Heru.

        Di tengah euforia pasar, manajemen tetap realistis memandang tantangan ke depan. Heru mengakui bahwa tahun 2026 akan menjadi periode yang tidak mudah, terutama karena ketegangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi kinerja industri tekstil nasional.

        Baca Juga: Investor Ini Buang 8 Juta Saham BELL Kala Harga Lompat Ratusan Persen

        Meski demikian, perseroan tetap optimistis dapat bertumbuh dengan mengandalkan diferensiasi produk dan kekuatan merek.

        Keunggulan BELL terletak pada produk yang memiliki uniqueness serta kemampuan menyesuaikan pesanan (customized order), didukung fleksibilitas order yang mampu menjawab dinamika dan ketidakpastian pasar.

        Di sisi lain, merek Bellini dan Caterina yang telah lama dikenal luas juga menjadi modal penting dalam menjaga daya saing di 2026.

        Persaingan usaha saat ini, diakui Heru, memang semakin ketat, khususnya dengan maraknya barang impor ilegal berharga murah yang membanjiri pasar domestik. Namun, perseroan menilai posisinya tetap solid karena mampu menghadirkan produk dengan karakter unik yang tidak dimiliki produk lain. 

        Ditambah pengalaman lebih dari 50 tahun di industri tekstil serta segmen pelanggan menengah ke atas (middle-up), dampak gempuran produk murah dinilai tidak terlalu signifikan bagi kinerja perseroan.

        “Target pertumbuhan di tahun 2026 adalah sebesar 8% dan Perseroan berfokus untuk memperkuat fundamental bisnis dengan mengeksekusi rencana jangka pendek serta target jangka panjang antara lain peremajaan mesin, perluasan outlet retail, dan mengembangkan produk inovatif yang selaras dengan kebutuhan pasar,” ujar Heru.

        Baca Juga: BUMN Tekstil Disiapkan Demi Selamatkan Puluhan Ribu Pekerja

        Pada kuartal III 2025, penjualan perseroan turun 3% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Laba kotor Q3-2025 juga terkoreksi 9% menjadi Rp128 miliar, dari Rp140 miliar pada Q3-2024. Laba bersih tercatat sebesar Rp9 miliar, menurun 29% dibandingkan Rp13 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

        Secara keseluruhan, kinerja Q3-2025 memang lebih rendah dibandingkan Q3-2024, yang dipengaruhi fluktuasi daya beli konsumen.

        Meski begitu, secara kuartalan perseroan berhasil mencatatkan perbaikan laba menjadi Rp1,16 miliar per September 2025, dibandingkan Rp234 juta pada kuartal sebelumnya (QoQ), seiring meningkatnya permintaan pada segmen seragam.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: