- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
OJK-BEI Redam Kepanikan Pasar, IHSG Akhirnya Ditutup Balik ke Level 8.000
Kredit Foto: Uswah Hasanah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 88,35 poin atau 1,06% ke level 8.232,20 pada perdagangan Kamis (29/1/2026). Meski masih melemah, tekanan terbilang mulai mereda setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak cepat merespons gejolak yang sempat memicu kepanikan pasar.
Pada perdagangan intraday pagi tadi, IHSG sempat terperosok hingga 8% ke posisi 7.654,66. Kondisi tersebut bahkan memaksa BEI melakukan pembekuan perdagangan sementara atau trading halt.
Di akhir perdagangan, pergerakan saham masih didominasi warna merah. Tercatat 521 saham terkoreksi, 214 saham menguat, dan 73 saham stagnan.
Hingga sore ini, IHSG mencatatkan volume perdagangan 99,10 miliar lembar saham dengan frekuensi 4.934.515 kali. Adapun nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp68,16 triliun.
Baca Juga: Sempat Jatuh ke Level 7.000, Purbaya Tetap Pede IHSG Bisa Tembus 10.000 di Akhir Tahun
Dari jajaran top losers, PT Intra Golflink Resorts Tbk (GOLF) memimpin pelemahan dengan penurunan 15% ke Rp272. Disusul PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang ambles 14,97% ke Rp250 dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang tertekan 14,93% ke Rp940.
Sementara di barisan top gainers, ada PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) yang melonjak 26,23% ke Rp154, PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) melesat 24,46% ke Rp346, serta PT Data Sinergitama Jaya Tbk (ELIT) yang meroket 23,02% ke Rp342.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham paling ramai diburu investor dengan nilai transaksi mencapai Rp9,8 triliun. Diikuti, BUMI mencatatkan transaksi Rp6,29 triliun dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp4,03 triliun.
Baca Juga: IHSG Bergejolak, Inarno Ungkap Senjata OJK Redam Kepanikan Pasar
Merespons tekanan pasar yang dipicu pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), BEI dan OJK hari ini telah menggelar rapat. Dari pertemuan tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga posisi Indonesia tetap berada dalam kategori Emerging Market dalam klasifikasi MSCI.
OJK juga akan sementara berkantor di BEI mulai besok, Jumat (20/1/2026), sebagai langkah percepatan reformasi pasar modal agar selaras dengan standar MSCI.
Di sisi regulasi, OJK juga akan menerbitkan aturan baru terkait batas minimal free float sebesar 15% bagi emiten di BEI. Transparansi kepemilikan saham turut diperkuat, termasuk kewajiban publikasi kepemilikan di atas dan di bawah 5% untuk setiap kategori investor.
Lebih lanjut, regulator berencana membuka data ultimate beneficial owner (UBO) untuk 100 emiten sebagai tahap awal dan menyerahkannya kepada MSCI.
Selain itu, data kepemilikan saham akan dikonsultasikan lebih lanjut guna memastikan kesesuaiannya dengan standar internasional.
Sejalan dengan itu, Direktur Utama BEI Iman Rachman dijadwalkan melakukan pertemuan dengan MSCI pada Senin pekan depan.
Baca Juga: OJK Targetkan Standar MSCI Terpenuhi Sebelum Maret 2026
OJK menargetkan seluruh penyesuaian regulasi dan teknis agar memenuhi standar MSCI dapat dirampungkan sebelum Maret 2026.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu konfirmasi dari MSCI terkait kesesuaian penyesuaian yang telah dilakukan.
Mahendra menjelaskan, selain menanti konfirmasi awal tersebut, OJK juga akan menyampaikan informasi tambahan dan pendalaman lanjutan kepada MSCI, sekaligus menginformasikannya kepada publik. Proses itu akan dipercepat agar tidak mendekati tenggat evaluasi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: