Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Izin Investor, BNI (BBNI) Mau Buyback Saham Rp1,5 Triliun

        Izin Investor, BNI (BBNI) Mau Buyback Saham Rp1,5 Triliun Kredit Foto: Dok. BNI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) berencana melakukan aksi pembelian kembali atau buyback saham dengan dana yang disiapkan mencapai Rp1,5 triliun.

        Rencana tersebut akan terlebih dahulu dimintakan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan berlangsung pada 9 Maret 2026.

        Buyback saham akan dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), baik secara bertahap maupun sekaligus. Perseroan menargetkan proses buyback dapat diselesaikan paling lama 12 bulan sejak memperoleh persetujuan, dengan perkiraan periode pelaksanaan mulai 9 Maret 2026 hingga 8 Maret 2027.

        Buyback dimaksudkan untuk membantu mengurangi tekanan jual di pasar saat indeks harga saham sedang berfluktuasi, sekaligus memberi indikasi kepada investor bahwa perusahaan memandang harga saham saat ini tidak mencerminkan fundamental perusahaan,” ujar manajemen.

        Baca Juga: BNI Private Dorong Transformasi Model Private Banking Nasional

        Sepanjang 2025, saham perbankan nasional memang berada di bawah tekanan. Ketidakpastian global akibat risiko geopolitik dan ancaman perang tarif menjadi faktor eksternal yang membebani, sementara dari dalam negeri, industri perbankan dihadapkan pada tantangan likuiditas serta perlambatan permintaan kredit. 

        Kondisi ini membuat saham perbankan Indonesia tertekan lebih dalam dibandingkan bank-bank regional. Hingga 31 Desember 2025, harga saham BNI tercatat hanya naik 0,5% secara tahunan (YoY). Meski masih lebih baik dibandingkan sejumlah bank domestik lain, kinerjanya tetap tertinggal jika disandingkan dengan bank-bank di kawasan regional.

        Memasuki akhir 2025, pasar saham domestik sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan seiring mulai kembalinya optimisme investor asing. Namun, arus dana asing yang masuk belum sepenuhnya pulih. Kehati-hatian investor kembali meningkat di awal 2026, dipicu oleh eskalasi ketidakpastian global, terutama tensi geopolitik dan ancaman tarif dari Amerika Serikat.

        Di tengah kondisi tersebut, BNI menilai prospek kinerjanya masih berada di jalur positif. Fundamental perseroan dinilai tetap resilien, tercermin dari permodalan yang kuat, kualitas aset yang terjaga, pertumbuhan kredit yang imbang di seluruh segmen, serta pertumbuhan dana murah yang solid. Kinerja ini turut ditopang oleh transformasi digital dan kekuatan jaringan BNI. 

        Baca Juga: Harga Saham Ambruk, BBCA Berencana Buyback Rp5 Triliun

        Meski demikian, manajemen juga mengakui bahwa berlanjutnya konflik geopolitik dan perang tarif berpotensi memicu tekanan inflasi melalui nilai tukar, yang pada akhirnya dapat menekan IHSG, termasuk saham-saham perbankan nasional.

        "Perseroan berkeyakinan bahwa pelaksanaan buyback tidak akan memberikan dampak negatif yang material terhadap kegiatan usaha Perseroan, mengingat Perseroan memiliki modal dan cash flow yang cukup untuk melaksanakan pembiayaan transaksi bersamaan dengan kegiatan usaha Perseroan," terang manajemen. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: