Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Analisis Michael Burry Jadi Sorotan, Harga Bitcoin (BTC) Kembali Anjlok Hingga US$73.000

        Analisis Michael Burry Jadi Sorotan, Harga Bitcoin (BTC) Kembali Anjlok Hingga US$73.000 Kredit Foto: Unsplash/Kanchanara
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga bitcoin bergerak terbatas dalam kisaran US$70.000 - US$79.999 di Rabu (4/2). Rentan harga tersebut telah menjadi warna bitcoin selama hampir satu pekan sejak penurunan tajam akhir pekan lalu.

        Dikutip dari Coinmarketcap, harga bitcoin sempat jatuh hingga US$73.000. Rentang harga bitcoin saat ini dinilai tidak biasa, mengingat bitcoin secara historis cenderung bergerak cepat melewati level tersebut tanpa membangun support atau resistance yang kuat.

        Baca Juga: Ditopang Sejumlah Faktor, Bitcoin (BTC) Disebut Akan Kalahkan Emas Hanya Dalam Sepuluh Tahun

        US$70.000 - US$79.999 secara historis, rentang harga ini tergolong salah satu area yang paling minim konsolidasi dan biasanya tidak bertahan lama, lebih sering bergerak cepat naik atau turun.

        Adapun Investor Kawakan, Michael Burry memperingatkan bahwa penurunan harga bitcoin dapat menimbulkan efek rambatan ke pasar keuangan lainnya, termasuk emas dan perak.

        Menurut Burry, pelemahan pasar kripto kemungkinan memaksa investor institusional dan pengelola kas perusahaan untuk melepas aset lain guna menutup kerugian. Ia menilai aksi jual tersebut dapat mencakup posisi yang sebelumnya mencetak keuntungan, termasuk kontrak berjangka emas dan perak berbasis token.

        “Tidak ada alasan penggunaan organik yang membuat bitcoin melambat atau menghentikan penurunannya,” ujar Burry.

        Ia juga memperingatkan bahwa jika harga bitcoin terus turun, perusahaan penambangan kripto berisiko menghadapi kebangkrutan.

        Baca Juga: Berujung Jatuh, Order Book Menjadi 'Biang Kerok' Harga Bitcoin (BTC) Tak Reli Macam Emas

        Selain itu, pasar kontrak berjangka logam mulia berbasis token berpotensi kehilangan likuiditas dan runtuh tanpa pembeli.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: