Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Moody’s Ubah Outlook Indonesia dari Stabil Jadi Negatif

        Moody’s Ubah Outlook Indonesia dari Stabil Jadi Negatif Kredit Foto: The Technical Traders
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Moody’s Ratings secara resmi mengubah outlook peringkat kredit Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan sorotan utama pada menurunnya kepastian dan konsistensi kebijakan yang dinilai berisiko melemahkan efektivitas kebijakan serta kredibilitas institusional pemerintah. Meski demikian, peringkat kredit Indonesia dipertahankan di level Baa2 (investment grade).

        Moody’s menegaskan, jika tren ketidakpastian kebijakan ini berlanjut, kredibilitas kebijakan yang selama ini menjadi penopang stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan Indonesia berpotensi tergerus. Kondisi tersebut dapat meningkatkan volatilitas pasar dan menekan daya tarik investasi.

        Baca Juga: Penguatan Sistem Rating Kredit Jadi Kunci Perbaikan Tata Kelola Pembiayaan Negara

        Dalam penilaiannya, Moody’s mencatat melemahnya koherensi proses pengambilan kebijakan dan efektivitas komunikasi pemerintah sepanjang setahun terakhir. Hal ini tercermin dari meningkatnya volatilitas pasar saham dan nilai tukar, serta penurunan skor Indonesia pada indikator global terkait efektivitas pemerintah dan kualitas regulasi. Moody’s menilai pelemahan ini berpotensi mencerminkan penurunan kekuatan institusional dibandingkan dengan yang sebelumnya diasumsikan.

        Lembaga pemeringkat tersebut juga menyoroti arah kebijakan fiskal yang semakin bertumpu pada belanja publik untuk mendorong pertumbuhan, di tengah basis penerimaan negara yang dinilai masih sangat lemah. Menurut Moody’s, strategi ini meningkatkan risiko defisit fiskal yang lebih lebar apabila tidak disertai reformasi penerimaan yang kredibel dan berkelanjutan.

        Selain itu, pembentukan dana kekayaan negara Danantara menjadi perhatian khusus. Dengan kewenangan atas aset BUMN dalam skala sangat besar, ketidakjelasan terkait tata kelola, prioritas investasi, dan koordinasi kebijakan dinilai berpotensi menambah ketidakpastian serta memunculkan risiko kewajiban kontinjensi bagi negara, terutama melalui tekanan terhadap kebijakan dividen dan kesehatan keuangan BUMN.

        Baca Juga: Sengatan MSCI Berlanjut, Nomura Ikut Turunkan Peringkat Saham RI

        Moody’s juga mencatat meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap pertumbuhan pendapatan, prospek lapangan kerja, dan standar hidup, yang memicu aksi protes sepanjang tahun. Faktor ini dinilai menambah risiko stabilitas politik domestik, yang dalam jangka panjang dapat membebani profil kredit Indonesia.

        Meski outlook diturunkan, Moody’s menegaskan fundamental ekonomi Indonesia belum mengalami perubahan material. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap berada di kisaran 5%, dengan defisit fiskal masih dijaga di bawah 3% dari PDB. Namun, lembaga tersebut mengingatkan bahwa pelemahan kredibilitas kebijakan dapat dengan cepat mengubah stabilitas tersebut apabila tidak segera direspons.

        Moody’s menegaskan akan terus memantau arah kebijakan pemerintah, khususnya terkait konsistensi kebijakan fiskal dan moneter, tata kelola Danantara, serta dampaknya terhadap arus modal, stabilitas pasar keuangan, dan kepercayaan investor.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: