Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah berada di level Rp16.850 per dolar Amerika Serikat (AS), lebih rendah dibandingkan posisi penutupan perdagangan Kamis (5/2) yang berada di level Rp16.825 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan penguatan dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat ke level 97,82 pada akhir perdagangan Kamis (5/2).
DXY merupakan indeks yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, yakni euro, yen Jepang, pound Inggris, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss.
Dari pasar obligasi domestik, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat naik ke level 6,37 persen pada Jumat (6/2).
Namun, jika dibandingkan dengan posisi Kamis (22/1), yield SBN 10 tahun sebelumnya sempat berada di level 6,30 persen.
Sementara itu, imbal hasil US Treasury Note tenor 10 tahun justru mengalami penurunan. Pada akhir perdagangan Kamis (5/2), yield obligasi pemerintah AS tersebut tercatat turun ke level 4,180 persen.
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” tulis Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, Jakarta, Sabtu (7/2/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: