- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Lonjakan Biaya Pengiriman Minyak dan Gas Akibat Selat Hormuz Ditutup, Naiknya Gila-Gilaan hingga 45 Persen!
Kredit Foto: Istimewa
Biaya pengiriman minyak dan gas dunia melonjak tajam seiring meningkatnya konflik Amerika Serikat, Israel dan Iran.
Laporan dari Reuters menyebut data pelayaran dan sumber industri pada Selasa (3/03) menyebutkan tarif supertanker di kawasan Timur Tengah telah menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa, setelah Teheran menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Pengiriman melalui Strait of Hormuz yang selama ini dikenal sebagai jalur perairan strategis antara Iran dan Oman yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia serta volume besar gas alam cair (LNG) saat ini hampir lumpuh total.
"Sejumlah kapal dilaporkan terkena serangan ketika Iran membalas serangan udara AS dan Israel," tulis laporan itu.
Gangguan distribusi serta kekhawatiran penutupan jalur tersebut dalam waktu lama memicu lonjakan harga energi.
Harga minyak Brent tercatat naik hampir 10 persen sepanjang pekan ini, dipicu penghentian sejumlah fasilitas minyak dan gas di kawasan Timur Tengah akibat eskalasi konflik.
Tarif Supertanker Cetak Rekor
Tarif acuan pengiriman untuk very large crude carrier (VLCC) atau kapal tanker raksasa berkapasitas 2 juta barel dari Timur Tengah ke China atau dikenal sebagai rute TD3 melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah pada Senin.
Berdasarkan data LSEG, tarif tersebut mencapai W419 dalam ukuran Worldscale, setara sekitar 423.736 dolar AS per hari. Angka itu melonjak dua kali lipat dibanding Jumat lalu, melanjutkan kenaikan dari level tertinggi enam tahun yang tercatat pekan sebelumnya.
Lonjakan terjadi setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah target di negara-negara Teluk, yang memicu penghentian operasional di berbagai fasilitas minyak dan gas.
Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran pada Senin menyatakan Selat Hormuz telah ditutup dan Iran akan menembaki kapal mana pun yang mencoba melintas, sebagaimana dilaporkan media setempat.
Tarif LNG Melonjak Tajam
Dampak konflik juga terasa pada pengiriman LNG. Tarif harian kapal tanker LNG melonjak lebih dari 40 persen pada Senin setelah Qatar menghentikan produksi.
Menurut Spark Commodities, lembaga penilai harga pengiriman LNG, tarif di kawasan Atlantik naik 43 persen menjadi 61.500 dolar AS per hari, sementara tarif di Pasifik meningkat 45 persen menjadi 41.000 dolar AS per hari.
Fraser Carson, analis utama LNG global dari konsultan energi Wood Mackenzie, memperkirakan tarif pengiriman LNG spot berpotensi menembus 100.000 dolar AS per hari pekan ini akibat pasokan kapal yang terhambat.
"Ketersediaan kapal untuk sisa Maret tergolong lemah karena operator masih mengatasi penumpukan pengiriman akibat gangguan cuaca pada Februari. Akan ada persaingan sangat ketat untuk kapal yang tersedia,” ujarnya.
Ia menegaskan, selama jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz belum dipastikan, aktivitas pengiriman kemungkinan tetap tertahan.
Seorang broker kapal minyak yang enggan disebutkan namanya mengatakan sangat sulit menilai tarif pengiriman di kawasan Teluk karena sejumlah pemilik kapal telah menangguhkan operasional tanpa batas waktu.
Penjualan bunker atau bahan bakar kapal di Fujairah, pelabuhan pengisian bahan bakar utama di Uni Emirat Arab, dilaporkan melambat akibat terganggunya pasokan.
Kondisi ini mendorong kenaikan harga dan berpotensi mengalihkan permintaan ke pelabuhan lain, termasuk Singapura.
Perusahaan pelayaran asal Korea Selatan, Hyundai Glovis, menyatakan tengah menyiapkan rencana darurat, termasuk mengamankan rute dan pelabuhan alternatif.
Sementara itu, pemerintah Korea Selatan mengeluarkan pemberitahuan kepada perusahaan pelayaran nasional yang beroperasi di Timur Tengah agar menahan diri dari aktivitas bisnis di kawasan tersebut, menurut seorang pejabat kepada Reuters.
Eskalasi konflik di kawasan Teluk kini tak hanya memicu ketidakpastian geopolitik, tetapi juga mengguncang stabilitas pasar energi dan rantai pasok global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: