Dolar Tertekan, China Dorong Sektor Perbankan Tinggalkan Obligasi AS
Kredit Foto: Antara/Bagus Ahmad Rizaldi
Dolar Amerika Serikat (AS) melemah tajam pada perdagangan di Selasa (10/2). Penurunan ini terjadi menjelang rilis serangkaian data ekonomi utama yang diperkirakan akan menentukan arah kebijakan suku bunga dari Negeri Paman Sam.
Dikutip dari Reuters, Indeks Dolar (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, berada di 96,952. Ia mendekati titik terendah dalam sepekan terakhir.
Baca Juga: Bank Sentral Eropa Curiga Dolar Sengaja Dilemahkan Trump
China dilaporkan mendorong bank-bank domestiknya untuk mendiversifikasi kepemilikan aset dan mengurangi ketergantungan pada obligasi pemerintah dari Amerika Serikat. Langkah tersebut dinilai menambah tekanan terhadap mata uang dolar.
Adapun fokus investor pekan ini tertuju pada laporan bulanan ketenagakerjaan dan inflasi yang sempat tertunda akibat penutupan sebagian pemerintahan selama tiga hari di AS. Data tersebut menjadi indikator kunci untuk menilai kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Penasihat Ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett mengatakan pertumbuhan lapangan kerja berpotensi melambat dalam beberapa bulan ke depan. Ia menilai perlambatan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan angkatan kerja yang lebih lambat serta peningkatan produktivitas.
Investor kini berupaya menilai apakah pelemahan pasar tenaga kerja mulai mereda atau justru berlanjut. Laporan nonfarm payrolls (NFP) bulan lalu dijadwalkan dirilis pada Rabu. Ia akan menjadi sorotan utama investor global.
Baca Juga: Buang Dolar, BI dan Bank of Korea Sepakat Perpanjang Kerjasama Senilai Rp115 triliun
Meski dolar tertekan, pasar masih memperkirakan bank sentral akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali tahun ini. Pemangkasan pertama diperkirakan terjadi pada Juni.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: