Kredit Foto: Danantara
Proyek Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang dikelola Danantara Indonesia memasuki fase tender dengan meloloskan 24 perusahaan internasional sebagai peserta. Dari jumlah tersebut, lima perusahaan asal Tiongkok tercatat menjadi bagian dari badan usaha yang berhak mengikuti proses pemilihan pengembang dan pengelola proyek.
Tahap pertama proyek WtE difokuskan pada empat kota, yakni Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta, yang dinilai paling siap secara administratif serta memiliki tingkat urgensi penanganan sampah. Danantara Indonesia menargetkan pengumuman pemenang tender pada akhir Februari 2026.
Dalam proses seleksi, Danantara Indonesia melakukan peninjauan terhadap lebih dari 200 perusahaan yang masuk dalam Daftar Penyedia Teknologi (DPT). Dari proses tersebut, 24 perusahaan dari Tiongkok, Prancis, Jepang, Singapura, dan Hong Kong dinyatakan lolos dan berhak mengikuti tender sebagai Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) PSEL.
“Perusahaan-perusahaan yang menjadi peserta tender WtE kami wajibkan untuk membentuk konsorsium dengan mitra lokal. Adanya konsorsium ini kami harapkan bisa memberikan transfer teknologi dengan perusahaan lokal atau pemda,” ujar Fadli Rahman, Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Fadli menegaskan proyek WtE tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga merupakan bagian dari kebijakan publik lintas sektor. “Kami juga ingin memastikan bahwa terjadinya tata kelola yang kuat sejak hulu, termasuk proses pemilihan Badan Usaha Pelaksana Proyek PSEL yang transparan dan berbasis mitigasi risiko,” ujarnya.
Lima Perusahaan Tiongkok Peserta Tender
Dari 24 perusahaan yang lolos, lima perusahaan asal Tiongkok tercatat memiliki rekam jejak di sektor pengolahan sampah dan energi, antara lain:
- Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd. merupakan perusahaan spesialis WtE yang berdiri pada 2009 dan berkantor pusat di Chongqing. Perusahaan ini tercatat di Bursa Saham Shanghai dengan kode 601827.SH dan dikenal sebagai pemegang lisensi teknologi grate incinerator dari Martin GmbH (Jerman). Hingga akhir 2023, teknologi Sanfeng telah diterapkan pada lebih dari 250 proyek WtE dengan kapasitas total di atas 220.000 ton sampah per hari. Sanfeng juga berperan sebagai investor dan operator proyek melalui skema BOT dan PPP.
- Wangneng Environment Co., Ltd. berkantor pusat di Huzhou, Zhejiang, dan mulai beroperasi pada 2012. Perusahaan ini memiliki 98 entitas usaha, termasuk anak perusahaan di luar negeri. Dalam bisnis WtE, Wangneng mengolah limbah padat menjadi listrik dan panas melalui berbagai metode dan mengklaim mampu menghasilkan sekitar 3,04 miliar kWh listrik bersih per tahun.
- Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. dikenal sebagai pemain utama WtE di Tiongkok dan sebelumnya telah menjalin kerja sama penyediaan peralatan insinerator dengan mitra di Indonesia. Pada 2023, Weiming menghasilkan sekitar 3,85 miliar kWh listrik dari fasilitas WtE. Perusahaan ini juga pernah menjajaki kerja sama investasi pengelolaan sampah di Bali dan wilayah Jawa Barat.
- SUS Indonesia Holding Limited terdaftar di Tiongkok dan mulai beroperasi pada Juli 2022. Perusahaan ini merupakan bagian dari Shanghai SUS Environment Co., Ltd., yang telah mengelola puluhan proyek WtE di berbagai negara. Di Indonesia, grup ini tercatat membangun fasilitas WtE di Makassar dengan kapasitas pengolahan sekitar 1.300 ton sampah per hari dan output listrik 35 MW.
- PT Jinjiang Environment Indonesia merupakan anak usaha Zheneng Jinjiang Environment Holding Co., Ltd. Perusahaan ini telah mengembangkan proyek PLTSa di Palembang dengan kapasitas pengolahan 1.000 ton sampah per hari dan output listrik 20 MW melalui skema BOO dengan kontrak konsesi 30 tahun, dengan nilai investasi sekitar US$120 juta.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: