Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Tekan Impor LPG dan Bensin, Bahlil Dorong Proyek DME Hingga E20

        Tekan Impor LPG dan Bensin, Bahlil Dorong Proyek DME Hingga E20 Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membeberkan strategi besar pemerintah untuk menekan defisit neraca perdagangan, akibat tingginya impor energi.

        Langkah utama yang akan diambil adalah melalui proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME), dan pengembangan campuran bahan bakar nabati E20.

        Bahlil mengungkapkan, saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada impor LPG, karena keterbatasan spesifikasi gas bumi domestik.

        Baca Juga: Danantara Bidik 14 Proyek Hilirisasi Baru, Investasi Total Tembus Rp436,8 triliun

        Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah akan mendorong hilirisasi batu bara sebagai substitusi impor gas.

        "Maka mau tidak mau kita harus membangun hilirisasi dengan substitusi impor, dengan memakai batubara, DME."

        "Ini pasti importir, mohon maaf ya, yang biasanya 8 juta ke depan akan berkurang nih," kata Bahlil di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

        Baca Juga: 18 Proyek Diserahkan ke Danantara, Satgas Hilirisasi Sebut Proyek Lain Menyusul

        Selain masalah LPG, sektor transportasi juga menjadi perhatian serius.

        Bahlil menyebut kebutuhan bensin nasional mencapai 40 juta kiloliter, sementara produksi dalam negeri hanya 14 juta kiloliter.

        Untuk menutup celah 25 juta kiloliter yang diimpor, pemerintah akan mengandalkan peningkatan produksi etanol.

        "Maka kita akan lakukan adalah di samping kita naikkan lifting, kita akan dorong namanya etanol E20 2028, dengan demikian akan mengurangi impor kita," jelasnya.

        Bahlil menargetkan desain besar ini akan membuat Indonesia hanya mengimpor minyak mentah (crude) saja di masa depan, sementara produk olahannya diproduksi penuh di dalam negeri.

        "Sampai ayam tumbuh gigi, kalau enggak kita kreatif untuk membuat ini, enggak akan bisa kita dalam negeri semua," imbuh Bahlil. (*)


        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: