Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Tertekan Harga Batu Bara, Laba Indo Tambangraya (ITMG) Susut 48% di 2025

        Tertekan Harga Batu Bara, Laba Indo Tambangraya (ITMG) Susut 48% di 2025 Kredit Foto: ITMG
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kinerja keuangan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sepanjang 2025 mengalami tekanan signifikan. Perseroan membukukan laba bersih sebesar USD190,94 juta, merosot 48,96 persen dibandingkan periode yang sama akhir 2024 yang mencapai USD374,11 juta.

        Sejalan dengan penurunan tersebut, laba per saham dasar dan dilusian ikut tergerus menjadi USD0,17 dari sebelumnya USD0,33.

        ITMG sesungguhnya mencatatkan peningkatan produksi batu bara sebesar 5% secara tahunan. Volume penjualan juga meningkat sebesar 3%, namun penurunan harga jual rata-rata (ASP) dari USD96/ton pada 2024 menjadi USD76/ton pada 2025 membuat pendapatan ikut ambruk. 

        Per 31 Desember 2025, pendapatan bersih ITMG tercatat USD1,88 miliar, turun 18,3 persen dari periode sama tahun sebelumnya sebesar USD2,3 miliar. 

        Baca Juga: Target 75 Juta Ton di Semester I, Pemerintah Kerek DMO Batu Bara untuk PKP2B-BUMN 30%

        "Pendapatan yang lebih rendah tersebut terutama disebabkan oleh penurunan ASP sebesar 20% sejalan dengan penurunan harga acuan batu bara, meskipun perusahaan mencatatkan volume penjualan batu bara yang lebih tinggi menjadi sebesar 24,7 juta ton pada FY25 dibandingkan dengan 24,0 juta ton pada FY24," kata manajemen. 

        Kontributor utama pendapatan masih berasal dari penjualan batu bara kepada pihak ketiga senilai USD1,84 miliar, menyusut dari USD2,2 miliar. Penjualan batu bara kepada pihak berelasi juga turun tajam menjadi USD18,19 juta dari sebelumnya USD86,38 juta.

        Sementara itu, pendapatan dari jasa pihak ketiga tercatat USD4,64 juta, turun dari USD5,29 juta. Adapun keuntungan atas transaksi swap batu bara tercatat USD10,56 juta, sedikit naik dari USD10,44 juta.

        Di sisi biaya, beban pokok pendapatan berhasil ditekan menjadi USD1,39 miliar dari USD1,6 miliar pada periode sebelumnya. Meski demikian, laba kotor tetap menyusut menjadi USD482,83 juta dari sebelumnya USD698,81 juta.

        Beban penjualan tercatat USD170,95 juta, lebih rendah dibandingkan USD178,28 juta pada akhir 2024. Namun beban umum dan administrasi meningkat menjadi USD44,9 juta dari USD37,09 juta. Beban keuangan juga melonjak signifikan ke USD11,12 juta dari USD4,05 juta.

        Baca Juga: Kendalikan Harga Global, Menteri ESDM Pangkas Kuota Produksi Batu Bara 2026

        Di sisi lain, penghasilan keuangan turun tipis menjadi USD40,13 juta dari USD41,28 juta, sementara pos lain-lain menyusut cukup dalam menjadi USD8,76 juta dari USD25,83 juta.

        Untuk posisi neraca, total aset relatif stabil di kisaran USD2,4 miliar. Liabilitas meningkat menjadi USD497,73 juta dari USD472,73 juta pada akhir 2024. Sedangkan total ekuitas tercatat USD1,9 miliar, sedikit turun dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya sebesar USD1,93 miliar.

        "Total liabilitas meningkat dan total ekuitas menurun, terutama disebabkan oleh pembelian saham treasuri sebesar USD8 juta pada FY25 dan penurunan laba ditahan yang menurun menjadi USD1.478 juta dari USD1.494 juta pada akhir tahun 2024," ujar manajemen. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: