Industri Bahan Bangunan Terkontraksi di Februari, Kemenperin: Proyek Infrastruktur Belum Jalan
Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Kementerian Perindustrian mencatat industri barang galian non-logam atau bahan baku konstruksi mengalami kontraksi pada Februari 2026. Pelemahan terjadi seiring belum bergulirnya proyek infrastruktur pada awal tahun anggaran serta masuknya periode Ramadan yang menahan permintaan domestik terhadap material bangunan.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian, Sri Bimo Pratomo, mengatakan kontraksi tersebut dipicu faktor musiman yang berdampak langsung pada aktivitas sektor konstruksi.
“Dapat kami sampaikan bahwa penyebab dari kontraksi ini adalah memasuki awal tahun anggaran dan bulan Ramadan, banyak proyek infrastruktur yang belum berjalan,” ujar Bimo dalam paparan Indeks Kepercayaan Industri (IKI), Kamis (26/2/2026).
Baca Juga: Kritik PT Semen Padang, COO Danantara Dony Oskaria: Direksi Harus Punya Visi Jelas
Menurut dia, tertahannya realisasi proyek fisik pemerintah berimbas pada penurunan permintaan bahan bangunan, khususnya produk industri barang galian non-logam yang mayoritas diserap pasar domestik.
“Sehingga permintaan bahan bangunan produk barang galian non-logam juga ikut turun,” imbuhnya.
Kementerian Perindustrian mencatat, meskipun subsektor ini mengalami kontraksi secara bulanan, kinerja tahunan industri barang galian non-logam masih tumbuh 6,16% sepanjang 2025. Namun, memasuki awal 2026, komponen pesanan dan persediaan dalam pembentuk IKI tertekan akibat dominasi permintaan domestik yang mencapai lebih dari 90%.
Selain faktor musiman, Kementerian Perindustrian juga menyoroti persoalan struktural di industri semen nasional. Bimo menyebut kapasitas produksi semen saat ini jauh melampaui kebutuhan pasar domestik.
“Industri semen mengalami excess capacity. Kapasitas yang dimiliki industri semen ini demand-nya ada gap yang cukup besar, sehingga terjadi kelebihan kapasitas,” ujarnya.
Kondisi kelebihan kapasitas tersebut membuat tingkat utilisasi industri semen sangat bergantung pada percepatan realisasi proyek infrastruktur pemerintah, baik di pusat maupun daerah. Tanpa percepatan proyek, tekanan terhadap utilisasi dan harga berpotensi berlanjut.
Baca Juga: SCG Indonesia Pastikan Semen Rendah Karbon Tak Turun Kualitas
Di tengah kontraksi subsektor barang galian non-logam, Kementerian Perindustrian mencatat secara keseluruhan sektor IKFT masih membukukan kinerja positif sepanjang 2025. Pertumbuhan sektor IKFT mencapai 5,11%, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di kisaran 3,84–3,87%.
Dari sisi perdagangan, sektor IKFT mencatatkan surplus neraca pada 2025. Nilai ekspor tercatat sebesar US$54,03 miliar, sementara impor mencapai US$49,55 miliar. Realisasi investasi sektor IKFT juga meningkat menjadi Rp200,32 triliun pada 2025, naik dibandingkan Rp158,86 triliun pada 2024.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: