Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Di Bawah Pemerintahan Prabowo-Gibran, Publik Masih Anggap Pilpres 2024 Belum Selesai

Di Bawah Pemerintahan Prabowo-Gibran, Publik Masih Anggap Pilpres 2024 Belum Selesai Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pegiat media sosial Ariyo Bimmo menilai publik masih menganggap pemilihan presiden (Pilpres) 2024 yang dimenangkan pasangan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka belum benar-benar selesai, setidaknya secara psikologis.

Belakangan ini media sosial dibanjiri dua fenomena, tren permohonan maaf dari pemilih Prabowo-Gibran, serta meme yang menggambarkan pemerintahan Prabowo sebagai keras kepala karena tetap memaksakan kebijakan dengan anggaran fantastis di tengah tekanan ekonomi.

"Belakangan ini media sosial ramai dengan dua hal. Pertama, tren permohonan maaf dari pemilih Prabowo-Gibran. Kedua, meme-meme yang menggambarkan pemerintahan Prabowo sebagai keras kepala, ambisius, bahkan disebut membawa Indonesia menuju krisis," ucapnya, dikutip dari YouTube COKRO TV, Minggu (31/5).

Ia menambahkan, sekilas fenomena tersebut tampak seperti kritik biasa. Namun jika dicermati, ada pola politik yang menarik di baliknya.

"Pilpres 2024 ternyata belum selesai, setidaknya secara psikologis," imbuhnya.

Tren permintaan maaf muncul salah satunya karena kekecewaan terhadap kondisi ekonomi yang dinilai carut-marut. 

Berbagai kebijakan fiskal, beban pajak, isu ketenagakerjaan, hingga harga kebutuhan pokok yang semakin menekan masyarakat pasca-pemilu menjadi pemantik utama rasa frustrasi kelompok pemilih ini.

Baca Juga: Jalankan MBG di Tengah Tekanan Ekonomi, Prabowo Tak Bisa Disebut Keras Kepala

Sementara meme yang menyoroti sikap keras kepala Prabowo muncul karena ia tetap menjalankan program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih meski kondisi ekonomi sedang tidak stabil. 

Meme tersebut bahkan membandingkan kepemimpinan Prabowo dengan Presiden ke-3 B.J. Habibie, yang dianggap rasional karena menghentikan proyek strategis saat krisis moneter 1998.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya