Prabowo Siap Jadi Mediator Perdamaian AS-Israel dengan Iran, Tapi Ternyata Masalah Jauh Lebih Besar
Kredit Foto: Istimewa
Presiden Prabowo Subianto siap menjadi mediator perdamaian untuk konflik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Hal tersebut disampaikan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia (RI).
Kemenlu menyatakan Presiden Prabowo bersedia melakukan perjalanan ke Teheran untuk menjalankan misi mediasi, jika langkah tersebut disetujui oleh Washington dan Teheran.
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, menurutnya, berpotensi mengganggu stabilitas kawasan, perdamaian dunia serta keamanan internasional.
Terkait hal tersebut, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla alias JK meilai sulit bagi Presiden Prabowo untuk menjadi mediator perdamaian antara Iran dengan AS-Israel. Pasalnya Indonesia telah melakukan perjanjian dagang resiprokal dengan AS.
"Sayangnya, Indonesia telah mengadakan perjanjian yang tidak seimbang, dan sangat merugikan Indonesia. Itu saja kita tidak setara Amerika. Bagaimana mendamaikan orang yang tidak setara dalam keadaan ini?" kata JK, dikutip dari ANTARA, Senin (2/3).
Meskipun demikian, rencana Prabowo untuk menjadi penengah merupakan hal baik. Tapi masalah ini jauh lebih besar dan kompleks. "Rencana itu [menjadi mediator] baik saja, tetapi ini situasi yang jauh lebih-lebih besar masalahnya," ujarnya.
Ia bahkan menyinggung bahwa konflik Israel-Palestina saja sulit didamaikan karena sangat ditentukan oleh sikap AS. "Ya, Israel dengan Palestina saja tidak bisa, sulit didamaikan, karena dunia ini sangat ditentukan oleh sikap Amerika," tandasnya.
Baca Juga: Konflik AS-Israel-Iran Ancam 20 Persen Pasokan Minyak Dunia
Untuk diketahui, Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan serangan gabungan pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah tokoh penting pemerintahan Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Salah satu alasan dari serangan ini adalah untuk menghancurkan industri rudal dan kekuatan angkatan laut dari Teheran.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: