Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Menjelang Lebaran, Impor Pakaian Jadi Naik 13,33% Capai US$11,5 Juta

        Menjelang Lebaran, Impor Pakaian Jadi Naik 13,33% Capai US$11,5 Juta Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor pakaian jadi dan aksesoris rajutan (kode HS 61) pada awal tahun mencapai US$11,5 juta. Nilai tersebut meningkat 13,33% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

        Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan kelompok pakaian dan aksesoris rajutan atau HS 61 menunjukkan kenaikan secara tahunan.

        “Ini pakaian dan aksesorisnya atau yang kami sebut istilah rajutan atau HS 61 mencapai 11,5 juta dolar AS,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/3/2026).

        Sebaliknya, impor pakaian dan aksesoris bukan rajutan (HS 62) justru mengalami penurunan. Pada Januari 2026, nilainya tercatat sebesar US$10,7 juta atau turun 13,11% dibandingkan Januari 2025.

        “Sekarang HS 62 itu nilainya 10,7 juta dolar AS atau turun 13,11 persen secara year on year,” kata dia.

        Secara keseluruhan, BPS mencatat nilai impor Indonesia pada Januari 2026 mencapai US$21,20 miliar. Angka ini meningkat 18,21% dibandingkan Januari 2025 secara tahunan.

        Peningkatan impor tersebut terutama didorong oleh sektor nonmigas dengan nilai US$18,04 miliar atau tumbuh 16,70% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

        Baca Juga: Inflasi Februari Capai 0,68%, Didorong Kenaikan Harga Daging Ayam hingga Cabai Rawit

        Baca Juga: Impor Januari Naik 18,21%, Barang dari China Masih Mendominasi

        Baca Juga: Kunjungan Wisman Januari Turun 17%, BPS Ungkap Penyebabnya

        “Pada Januari 2026, total nilai impor meningkat 18,21 persen jika dibandingkan Januari 2025,” ujar Ateng.

        Sementara itu, impor sektor migas juga tercatat meningkat signifikan sebesar 27,52% secara year on year, sehingga nilainya mencapai US$3,17 miliar pada Januari 2026.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: