Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Impor Januari Naik 18,21%, Barang dari China Masih Mendominasi

Impor Januari Naik 18,21%, Barang dari China Masih Mendominasi Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia mencapai US$21,20 miliar pada Januari 2026. Angka ini meningkat 18,21 persen dibandingkan Januari 2025 secara tahunan.

Peningkatan impor tersebut terutama berasal dari sektor nonmigas dengan nilai US$18,04 miliar, tumbuh 16,70 persen dibandingkan Januari 2025.

“Pada Januari 2026, total nilai impor meningkat 18,21 persen jika dibandingkan Januari 2025,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/3/2026).

Impor sektor migas juga tercatat meningkat signifikan sebesar 27,52 persen secara year on year. Kondisi ini membuat nilai impor migas pada Januari 2026 mencapai US$3,17 miliar.

Dilihat dari sisi penggunaan, peningkatan impor pada Januari 2026 terjadi pada seluruh kelompok, yakni bahan baku/penolong, barang modal, dan barang konsumsi. Impor bahan baku/penolong menjadi pendorong utama kenaikan impor dengan nilai US$14,88 miliar, naik 14,67 persen dibandingkan Januari 2025.

Sementara itu, impor barang modal tercatat sebesar US$4,49 miliar, melonjak 35,23 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.

BPS mencatat tiga negara utama asal impor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 adalah Tiongkok, Australia, dan Jepang, dengan kontribusi gabungan mencapai 54,92 persen.

Baca Juga: Ekspor Indonesia Tembus US$22,16 Miliar di Januari 2026

Baca Juga: Neraca Perdagangan Indonesia Surplus US$0,95 Miliar di Januari 2026

Baca Juga: Naik 6,15%, BPS Catat Ekspor Indonesia Tembus US$282,91 Miliar di 2025

Tiongkok masih menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai US$7,89 miliar atau setara 43,75 persen. Posisi berikutnya ditempati Australia sebesar US$1,07 miliar (5,92 persen) dan Jepang sebesar US$0,95 miliar (5,25 persen).

“Impor dari Tiongkok utamanya berupa mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya, mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya, serta plastik dan barang dari plastik,” pungkas Ateng.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: