- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Qatar Hentikan Produksi LNG, Konflik Timur Tengah Buat Lonjakan Harga Minyak
Kredit Foto: QatarEnergy
Qatar menghentikan produksi liquefied natural gas (LNG) pada Senin waktu setempat menyusul serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran serta aksi balasan Teheran yang memicu penutupan fasilitas energi di Timur Tengah. Gangguan tersebut mendorong lonjakan harga minyak hingga 13% intraday ke atas US$82 per barel, tertinggi sejak Januari 2025.
Mengutip Reuters, produksi LNG Qatar setara sekitar 20% pasokan global. Negara Teluk itu merupakan eksportir LNG terbesar kedua dunia setelah Amerika Serikat dan memasok 82% pelanggannya ke kawasan Asia melalui QatarEnergy. Pemerintah Qatar sebelumnya menyatakan fasilitas energi milik QatarEnergy diserang dua drone Iran dan tengah dilakukan asesmen kerusakan. QatarEnergy juga menghentikan produksi produk turunan LNG.
Gelombang serangan memasuki hari ketiga dan meluas ke sejumlah negara. Di Arab Saudi, kilang minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco berkapasitas 550.000 barel per hari (bph) dihentikan sebagai langkah pencegahan setelah serangan drone. Mengutip Reuters, dua drone berhasil dicegat dan puingnya memicu kebakaran terbatas tanpa korban jiwa. Sebagian unit kilang ditutup sementara, namun pasokan produk minyak ke pasar domestik disebut tidak terganggu.
Di Irak bagian Kurdistan, perusahaan seperti DNO, Gulf Keystone Petroleum, Dana Gas, dan HKN Energy menghentikan produksi secara preventif. Wilayah tersebut sebelumnya mengekspor sekitar 200.000 bph melalui pipa ke pelabuhan Ceyhan, Turki. Tidak ada laporan kerusakan fasilitas.
Pemerintah Israel juga memerintahkan Chevron menutup sementara ladang gas Leviathan di lepas pantai Israel yang tengah dalam ekspansi kapasitas menuju 21 miliar meter kubik per tahun dalam skema ekspor senilai US$35 miliar ke Mesir. Chevron menyatakan fasilitasnya aman. Energean turut menghentikan kapal produksi yang melayani ladang gas lebih kecil.
Di Iran, ledakan terdengar di Pulau Kharg yang memproses sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran. Dampak terhadap fasilitas belum dipastikan. Iran, produsen terbesar ketiga OPEC, memproduksi sekitar 3,3 juta bph minyak mentah serta 1,3 juta bph kondensat dan cairan lainnya, setara 4,5% pasokan global.
Eskalasi konflik juga mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Reuters melaporkan lalu lintas kapal hampir terhenti setelah sejumlah kapal diserang di sekitar perairan tersebut.
Analis Timur Tengah Verisk Maplecroft, Torbjorn Soltvedt, menyatakan serangan terhadap Ras Tanura menandai eskalasi signifikan terhadap infrastruktur energi Teluk dan berpotensi mendorong Arab Saudi serta negara Teluk lain mendekat pada operasi militer AS dan Israel terhadap Iran.
Baca Juga: Serangan Drone Paksa Aramco Menutup Kilang Minyak Terbesar
Baca Juga: Serangan AS ke Iran Ganggu Pasokan Minyak, Airlangga: Harga BBM Otomatis Naik
Baca Juga: Konflik AS-Israel-Iran Ancam 20 Persen Pasokan Minyak Dunia
Serangan terhadap fasilitas energi Saudi bukan pertama kali terjadi. Pada September 2019, serangan drone dan rudal ke fasilitas Abqaiq dan Khurais sempat memangkas lebih dari separuh produksi minyak Arab Saudi. Ras Tanura juga pernah menjadi target serangan kelompok Houthi pada 2021.
Gangguan produksi LNG dan minyak di sejumlah negara Timur Tengah meningkatkan risiko ketatnya pasokan energi global dalam jangka pendek, terutama bagi pasar Asia dan Eropa yang bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: