Nyaris Tembus Rp17.000, Mata Uang Garuda Babak Belur Dihantam Konflik Perang AS-Iran
Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 11 poin ke level Rp16.903 pada perdagangan Kamis (5/3/2026).
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap mata uang Garuda masih dipengaruhi tensi geopolitik di Timur Tengah yang memanas setelah Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel pada Kamis pagi, sehingga menyebabkan jutaan penduduk berlindung.
“Jutaan penduduk berlindung di tempat perlindungan bom saat konflik memasuki hari keenam, hanya beberapa jam setelah upaya menghentikan serangan udara AS diblokir di Washington,” ujarnya kepada wartawan.
Ibrahim menuturkan, pada Rabu sebuah kapal selam AS menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka yang menewaskan sedikitnya 80 orang. Selain itu, pertahanan udara NATO menghancurkan rudal balistik Iran yang ditembakkan ke arah Turki.
Pasukan Iran juga dilaporkan menyerang kapal tanker minyak di atau dekat Selat Hormuz.
“Ledakan juga dilaporkan terjadi di dekat sebuah kapal tanker di lepas pantai Kuwait, menurut United Kingdom Maritime Trade Operations,” kata dia.
Sementara dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga terjadi setelah Bank Indonesia (BI) merespons penilaian lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level BBB dengan penyesuaian outlook menjadi negatif.
“Afirmasi peringkat Indonesia pada BBB merefleksikan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat. Penyesuaian outlook tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia,” jelas Ibrahim.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp16.892 Usai Fitch Revisi Outlook Utang RI Jadi Negatif
Baca Juga: Rupiah Nyaris Rp17.000, Digempur 3 Sentimen Global Ini
Baca Juga: Perang Meluas di Timur Tengah, Rupiah Melemah ke Rp16.872
Ia menilai stabilitas sistem keuangan Indonesia saat ini masih terjaga dengan baik. Hal itu ditopang oleh likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang relatif rendah.
Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah tetap solid dan menunjukkan tren meningkat, didukung oleh inflasi yang terkendali.
“Pada 2026, pertumbuhan ekonomi diprakirakan berada pada kisaran 4,9–5,7 persen dan meningkat pada 2027, dengan inflasi yang tetap terjaga sesuai sasaran target,” ujar Ibrahim.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: