Kredit Foto: Antara/Reno Esnir
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa pagi, bergerak melemah 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.405 per dolar AS. Hingga pukul 10.00 WIB mata uang Garuda berdasarkan data Bloomberg sudah terpantau berada di Rp17.421 per USD.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah akan mencapai Rp17.550 per USD pada pekan ini. Salah satu pemicunya disebabkan oleh konflik di Selat Hormuz yang kembali pecah setelah banyak menewaskan tentara Iran.
"Target saya sendiri dalam minggu ini adalah di Rp17.550 per USD kemungkinan besar, kemungkinan akan tercapai," kata Ibrahim kepada wartawan, Selasa (5/5/2026).
Presiden AS, Donald Trump, kata Ibrahim sudah menginstruksikan terhadap Angkatan Laut Amerika yang berada di Laut Oman, Laut Internasional untuk melakukan penguasaan terhadap Selat Hormuz yang sebelumnya dikuasai oleh Iran. Kondisi ini membuat ketegangan terbaru karena ada lebih dari lima kapal perang kecil Iran yang dibombardir dan hancur.
"Ini membuat ketegangan tersendiri di Timur Tengah. Itu yang pertama," ungkap dia.
Baca Juga: Konflik Akan Panjang, Pakar Sebut Amerika Serikat Keliru Baca Kondisi Iran
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Industri Asuransi Hadapi Biaya Naik
Di sisi lain, kata Ibrahim, penyebab pelemahan rupiah kali ini dipicu juga oleh Ukraina yang melakukan penyerangan dengan menggunakan drone terhadap wilayah Rusia. Di mana kilang-kilang minyak di wilayah tersebut dibombardir.
"Dan ini mengakibatkan produksi kilang minyak di Rusia ini mengalami penurunan 10 persen sehingga ini berdampak terhadap penguatan harga minyak mentah," ungkap dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: