Kredit Foto: Ayu Rachmaningtyas Tuti Dewanto
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa konsumsi produk fesyen muslim dunia, atau yang dikenal dengan modest fashion, terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun.
Berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy Report (SGIER) 2024/2025, pada 2023 konsumsi fesyen muslim global mencapai USD327 miliar dan diproyeksikan melonjak menjadi USD433 miliar pada 2028.
“Hal ini menunjukkan bahwa industri modest fashion memiliki prospek pasar yang sangat besar dan harus berkembang sehingga mampu membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat peran sebagai produsen sekaligus pusat tren modest fashion dunia,” jelas Menperin, dikutip dari siaran pers Kemenperin, Jumat (13/3).
Potensi industri modest fashion dalam negeri di pasar dunia juga menunjukkan capaian yang menjanjikan. Hal ini dapat dilihat dari nilai ekspor modest fashion Indonesia ke negara anggota Organization Islamic Cooperation (OIC) pada tahun 2023 mencapai USD 990 juta.
“Nilai tersebut mengalami peningkatan sebesar 83 persen jika dibandingkan dengan tahun 2022 yang hanya mencapai US$ 540 juta, dan hal ini membuat Indonesia menjadi negara tujuh tertinggi ekspor ke negara OIC,” ungkap Menperin.
Meskipun demikian, negara yang melakukan ekspor produk fesyen ke negara-negara anggota OIC masih didominasi oleh negara China, Turki dan India. “Ini menjadi tugas semua stakeholder untuk meningkatkan peran Indonesia dalam pasar fesyen muslim dunia,” imbuhnya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengungkapkan, Indonesia memiliki potensi industri fesyen yang sangat besar, baik sebagai pasar maupun sebagai produsen. “Indonesia berpotensi menjadi salah satu pemain utama industri modest fashion global dengan sektor industri yang padat karya,” ujarnya.
Merujuk data BPS, pada tahun 2024 jumlah industri kecil pakaian jadi berjumlah 594 ribu dengan tenaga kerja mencapai 1,2 juta pekerja. “Modest fashion kini telah berkembang menjadi tren busana global yang tidak hanya diminati oleh masyarakat muslim, tetapi juga berbagai kalangan lintas budaya dan gaya hidup,” tutur Reni.
Menurutnya, konsep modest fashion terus berevolusi menjadi lebih inklusif, tanpa memandang agama, etnis, maupun preferensi individu. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat modest fashion dunia, didukung oleh kreativitas desainer lokal, kekayaan budaya, serta keberagaman bahan tekstil berkualitas tinggi yang menjadi identitas bangsa.
Baca Juga: Kementerian ESDM Pastikan Stok Energi Aman Jelang Mudik, Solar Justru Turun 27 Persen
“Potensi tersebut turut diperkuat oleh capaian Indonesia, yang berdasarkan State of Global Islamic Economy Report (SGIER) 2024/2025 berhasil menduduki peringkat pertama dalam ekosistem lokal yang mendukung perkembangan industri modest fashion,” ungkap Reni.
Kolaborasi pengembangan
Sejalan dengan implementasi kewajiban sertifikasi halal nasional, lanjut Reni, mulai Oktober 2026 pemberlakuan sertifikasi halal salah satunya untuk produk barang gunaan, termasuk produk fesyen dan modest fashion, menjadi momentum strategis untuk meningkatkan daya saing industri nasional.
“Kebijakan ini tidak hanya memberikan jaminan kualitas, keamanan, serta kepercayaan konsumen, tetapi juga menciptakan nilai tambah (added value) bagi produk modest fashion Indonesia di pasar global,” ungkapnya.
Indonesia sebagai negara yang secara komprehensif menerapkan sertifikasi halal pada produk barang gunaan, dapat memberikan diferensiasi dan keunggulan kompetitif dibandingkan produk dari negara lain. Sehingga dengan adanya standar halal yang terjamin dan terintegrasi, produk modest fashion Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar ekspor, khususnya negara-negara dengan populasi muslim besar maupun pasar global yang semakin mengedepankan aspek ethical fashion, keberlanjutan, dan traceability produk.
“Melalui sinergi kebijakan industri, inovasi desain, serta penerapan sertifikasi halal sebagai standar mutu global, Indonesia diharapkan mampu memperkuat posisinya sebagai pusat modest fashion dunia sekaligus meningkatkan kontribusi industri fesyen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan ekspor nonmigas,” papar Dirjen IKMA.
Reni menegaskan pentingnya kolaborasi antar stakeholder pengembangan industri fesyen muslim. “Perkembangan industri modest fashion tidak lepas dari peran berbagai pihak. Untuk itu, kami mengajak seluruh stakeholder baik asosiasi, industri tekstil, pelaku usaha, desainer, akademisi, influencer, marketplace hingga konsumen untuk dapat mewujudkan industri modest fashion yang berkelanjutan dan berdaya saing,” jelasnya.
Reni juga menyampaikan dukungan dan apresiasinya kepada Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) serta seluruh pihak lainnya yang terlibat dalam komitmen pengembangan modest fashion di Indonesia melalui penyelenggaraan event Ramadan Runway, yang telah berlangsung secara konsisten hingga kini telah memasuki tahun ke-14. “Saya optimis keterlibatan dan keikutsertaan berbagai pihak akan memperkuat ekosistem modest fashion nasional,” imbuhnya.
Baca Juga: Khawatir Bansos Dicabut karena BPJS? Kemenaker dan Kemensos Beri Klarifikasi
Direktur IKM Kimia, Sandang dan Kerajinan, Budi Setiawan menuturkan bila momentum Bulan Suci Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai waktu untuk meningkatkan ibadah dan refleksi spiritual tetapi juga menjadi momentum penggerak ekonomi kreatif dan industri fesyen nasional.
“Diharapkan acara ini mampu menjadi ruang ekspresi kreatif bagi para desainer, pelaku industri kreatif, serta pecinta modest fashion untuk menampilkan karya terbaik sekaligus menginspirasi gaya berbusana yang santun, berkarakter, dan tetap mengikuti perkembangan tren modern,” tutup Budi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: