Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        'Sirkel' Trump Strategi Amerika Meleset, Iran Kini yang Tentukan Kapan Perang Selesai

        'Sirkel' Trump Strategi Amerika Meleset, Iran Kini yang Tentukan Kapan Perang Selesai Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Sejumlah orang di lingkaran terdalam Gedung Putih mulai mengakui bahwa perang melawan Iran tidak berjalan sesuai rencana.

        Melansir Politico, beberapa di antara mereka bahkan meyakini bahwa Presiden AS Donald Trump tidak lagi mengendalikan bagaimana atau kapan perang ini akan berakhir.

        Di awal operasi banyak orang di sekitar Trump berharap perang selesai cepat. Tujuan yang sengaja dibuat tidak terdefinisi dianggap menguntungkan karena memberi Trump fleksibilitas untuk mendeklarasikan kemenangan kapan pun ia mau, namun kalkulasi itu kini terbukti meleset.

        "Dia terlalu meremehkan kemampuannya untuk menjatuhkan rezim tanpa mengirim pasukan darat," kata satu sumber kepada Axios.

        Sebagian orang di lingkaran dalam Trump disebut mulai merasakan apa yang digambarkan sebagai buyer's remorse atau kekhawatiran yang berkembang bahwa menyerang Iran adalah sebuah kesalahan.

        "Iran yang kini memainkan peran penentu. Mereka yang memutuskan berapa lama kita terlibat — dan mereka yang memutuskan apakah kita harus mengirim pasukan darat. Dan tampaknya bagi saya tidak ada jalan lain, jika kita ingin menyelamatkan muka," katanya dikutip dari Politico.

        Salah satu titik paling krusial dalam konflik hampir dua pekan ini adalah penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Melansir CNN, langkah itu membuktikan bahwa keunggulan militer AS tidak serta-merta bisa menyelesaikan semua persoalan di lapangan.

        "Tidak ada solusi militer untuk ini, karena bahkan jika Anda berhasil membukanya sekarang, apa yang menjamin ia tetap terbuka?" kata Jennifer Kavanagh, direktur analisis militer di Defense Priorities.

        Baca Juga: Gegara Perang Amerika Serikat-Iran, Trump Pilih Tunda Kunjungan ke China

        Retakan juga mulai terlihat di dalam Gedung Putih sendiri. Dikutip dari New Republic, Wakil Presiden JD Vance disebut berusaha menciptakan jarak antara dirinya dengan operasi militer Trump ke Iran.

        Dua pejabat senior yang tak disebut namanya menggambarkan Vance sebagai sosok yang skeptis terhadap perang ini dan khawatir soal keberhasilannya.

        Masalah struktural turut memperumit situasi. Dikutip dari CNN, Gedung Putih telah memangkas drastis Dewan Keamanan Nasional (National Security Council/NSC) selama setahun terakhir, melemahkan fungsi koordinasi lintas lembaga yang biasanya menjadi tulang punggung perencanaan perang.

        "NSC dulu adalah penyintesis akhir sebelum pertemuan deputi atau pimpinan untuk persetujuan. Tanpa proses lintas lembaga yang dipimpin NSC, perencanaan menjadi berantakan," kata satu pejabat senior AS.

        Iran telah menegaskan bahwa jika Trump memutuskan mengakhiri perang, mereka bisa terus menembakkan rudal dan roket sampai mendapat jaminan bahwa ini adalah akhir yang sesungguhnya, bukan sekadar gencatan sementara.

        Bagi Trump, menarik diri pun tidak mudah, karena Iran bisa tetap menutup Selat Hormuz dan mendorong harga minyak ke level yang memaksa AS terlibat kembali.

        Menurut laporan NPR, Israel menyatakan masih ada ribuan target di Iran dan perang diperkirakan berlangsung setidaknya tiga pekan lagi.

        Trump memperingatkan akan "sangat buruk bagi masa depan NATO" jika negara-negara anggota gagal membantu mengamankan Selat Hormuz, namun NATO, China, Jepang, Korea Selatan, dan Prancis semuanya menolak bergabung.

        Baca Juga: Kemenhub Bantah Seluruh Penerbangan Luar Negeri Dihentikan Gegara Perang AS - Iran

        Sebagian orang di lingkaran presiden kini meyakini operasi darat mungkin menjadi satu-satunya jalan menuju kemenangan.

        Namun para sekutu Trump yang sama juga yang paling keras memperingatkan Gedung Putih agar tidak terburu-buru, dengan mengakui bahwa pilihan presiden semakin menyempit seiring setiap langkah eskalasi yang diambil.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Fajar Sulaiman

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: