Harga BBM Meledak di 95 Negara Imbas Perang Timur Tengah, Kenaikan Terparah di Kamboja yang Hampir 68 Persen
Kredit Foto: Istimewa
Sedikitnya 95 negara telah melaporkan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 lalu.
Konflik ini telah memicu efek domino yang kini dirasakan langsung oleh para pengguna kendaraan bermotor di seluruh dunia.
Data dari Global Petrol Prices menunjukkan setidaknya 85 negara langsung mencatatkan kenaikan harga BBM pasca-serangan awal tersebut.
Platform pelacak harga energi eceran di sekitar 150 negar memprediksi akan terus bertambah pada bulan April, mengingat banyak negara yang baru mengumumkan penyesuaian harga pada akhir bulan.
Di Amerika Serikat, data dari American Automobile Association (AAA) menunjukkan bahwa harga rata-rata bensin reguler melonjak 20 persen, dari $2,94 per galon pada bulan Februari menjadi $3,58.
Sementara itu, untuk kawasan Asia yang sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk pasokan energi, menjadi salah satu yang paling terdampak setelah jalur distribusi utama tersebut praktis tertutup sejak perang meletus.
Berikut adalah lima negara dengan persentase kenaikan harga BBM tertinggi:
- Kamboja: Naik hampir 68%.
- Vietnam: Naik 50%
- Nigeria: Naik 35%
- Laos: Naik 33%
- Kanada: Naik 28%
Lonjakan harga minyak ini membawa ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dunia, terutama pada sektor logistik dan rantai pasok pangan. Biaya energi secara langsung memengaruhi setiap tahapan produksi makanan, mulai dari pembuatan pupuk hingga biaya distribusi dari ladang ke rak swalayan.
"Urat nadi ekonomi global adalah transportasi. Masalah logistik dan rantai pasokan. Pada akhirnya, transportasi adalah penggerak utama ekonomi global" kata ekonom David McWilliams dikutip dari Al Jazeera.
Kondisi ini memicu ketakutan akan terjadinya stagflasi, yakni lonjakan inflasi yang dibarengi dengan naiknya angka pengangguran.
Para ekonom merujuk pada krisis historis di tahun 1973, 1978, dan 2008 sebagai bukti bahwa lonjakan harga minyak yang drastis umumnya akan bermuara pada resesi global.
Beban terberat diprediksi akan ditanggung oleh negara-negara berpendapatan rendah. Dengan porsi pendapatan mayoritas dialokasikan untuk pangan dan ketergantungan pada impor biji-bijian serta pupuk, mahalnya harga minyak di negara-negara ini dapat dengan cepat berubah menjadi krisis kelaparan dan kekurangan pangan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: