Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga BBM Naik dan Stok Terbatas, Warga Perbatasan Thailand Rela Antre Berjam-jam Demi Menyambung Hidup

        Harga BBM Naik dan Stok Terbatas, Warga Perbatasan Thailand Rela Antre Berjam-jam Demi Menyambung Hidup Kredit Foto: The Nation
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Thailand memicu antrean panjang di wilayah perbatasan Thailand-Kamboja.

        Para pengendara motor, petani, hingga sopir truk di distrik Ban Kruat, Provinsi Buri Ram yang berbatasan langsung dengan Kamboja, terpaksa mengantre berjam-jam di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), meski harga BBM baru saja naik sekira 6 baht.

        Dilaporkan oleh Bangkok Post, warga setempat di distrik Ban Kruat, BBM bukan sekadar kebutuhan transportasi, tetapi juga penopang utama mata pencaharian.

        Karena itu, meskipun harus menghabiskan waktu berjam-jam, mereka tetap rela mengantre demi memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan.

        Kondisi ini diperparah dengan pembatasan pembelian yang diberlakukan sejumlah SPBU. Kebijakan tersebut diterapkan setelah muncul masalah penimbunan dan gangguan distribusi yang menyebabkan pasokan BBM belum sepenuhnya pulih.

        Situasi ini memicu frustrasi warga. Sejumlah pengendara mendesak pemerintah Thailand untuk sementara menghentikan ekspor BBM ke negara tetangga agar pasokan domestik kembali stabil dan harga tidak terus melonjak.

        Lonjakan antrean bermula setelah Badan Pendanaan Bahan Bakar Minyak Thailand mengumumkan kenaikan harga sebesar 6 baht pada Rabu malam pukul 22.00 waktu setempat. Pengumuman itu langsung memicu kepanikan, dengan warga berbondong-bondong menuju SPBU sebelum harga baru berlaku pada Kamis pukul 05.00 pagi.

        Namun, setelah harga baru diterapkan, antrean panjang tidak juga berkurang. Di sejumlah SPBU wilayah Ban Kruat yang berbatasan langsung dengan Kamboja, antrean kendaraan masih terlihat sejak pagi hingga siang hari.

        Selain kebutuhan bekerja, warga juga mulai menimbun BBM untuk berjaga-jaga. Kekhawatiran meningkat akibat potensi ketegangan di wilayah perbatasan dengan Kamboja yang sewaktu-waktu bisa kembali memanas. Warga khawatir mereka membutuhkan bahan bakar untuk evakuasi darurat jika situasi memburuk.

        Somporn Phusarona, seorang petani yang bekerja menebang tebu dan memanen singkong, mengatakan BBM kini semakin sulit diperoleh. Bahkan, beberapa SPBU menolak pembelian menggunakan jerigen, yang biasanya digunakan warga untuk menyimpan cadangan bahan bakar.

        "Setiap hari kami harus memantau grup Facebook untuk mencari tahu SPBU mana yang masih memiliki stok," kata Somporn. “Kalau datang sedikit terlambat saja, biasanya sudah kehabisan.”

        Kelangkaan dan kenaikan harga BBM ini menambah tekanan ekonomi bagi warga perbatasan, yang sangat bergantung pada kendaraan bermotor untuk bekerja di sektor pertanian, transportasi, dan perdagangan lintas wilayah

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: