Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Wapres AS Minta Paus Leo Hati-Hati Bicara Teologi, Penonton Pun Menyoraki

Wapres AS Minta Paus Leo Hati-Hati Bicara Teologi, Penonton Pun Menyoraki Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance, mendapat sorakan protes dari penonton saat berpidato di acara Turning Point USA di Athens, Georgia.

Insiden ini terjadi ketika Vance mengkritik Paus Leo XIV dan memintanya untuk "berhati-hati" saat berbicara mengenai masalah teologi.

Vance menyoroti komentar terbaru Paus Leo terkait kebijakan pemerintahan Donald Trump di tengah memanasnya perang Iran. Vance diduga merujuk pada unggahan Paus di platform X pada 10 April lalu.

Dalam unggahannya, Paus asal AS pertama tersebut menulis, "Tuhan tidak memberkati konflik apa pun. Siapa pun yang merupakan murid Kristus, Sang Pangeran Perdamaian, tidak pernah berada di pihak mereka yang dahulu menghunus pedang dan kini menjatuhkan bom."

Paus juga menambahkan bahwa aksi militer tidak akan menciptakan perdamaian, melainkan hanya melalui dialog antar bangsa.

Merespons pandangan tersebut, Vance, yang merupakan seorang penganut Katolik, melemparkan pertanyaan kepada audiens.

"Apakah Tuhan berada di pihak Amerika yang membebaskan Prancis dari Nazi? Apakah Tuhan berada di pihak Amerika yang membebaskan kamp-kamp Holocaust dan membebaskan orang-orang tak berdosa itu? Saya tentu berpikir jawabannya adalah 'Ya'," ungkap Vance.

Di tengah pernyataannya, seorang penonton memotong dan berteriak keras, "Yesus Kristus tidak mendukung genosida!" Vance secara lugas membalas bahwa ia menyetujui pernyataan penonton tersebut dan berjanji akan merespons poinnya.

Lebih lanjut, Vance menyatakan bahwa ia sebenarnya menyambut baik pandangan Paus terkait isu-isu seperti imigrasi, aborsi, serta perang dan perdamaian karena hal itu dapat memantik diskusi. Namun, ia menekankan pentingnya batasan dalam berkomentar.

"Sama seperti pentingnya bagi Wakil Presiden AS untuk berhati-hati saat berbicara soal kebijakan publik, saya pikir sangat penting bagi Paus untuk berhati-hati saat berbicara soal masalah teologi," tegas politisi berusia 41 tahun tersebut.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Advertisement