Kredit Foto: Istimewa
Presiden Prabowo Subianto cukup sering melakukan kunjungan ke luar negeri dengan harapan menghasilkan capaian nyata dari diplomasi politik dan ekonomi. Minggu ini, Presiden berkunjung ke Jepang, negara yang telah menjadi mitra dagang Indonesia selama lebih dari setengah abad dan memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian nasional.
Dengan banyaknya pengaruh, kerja sama dan hubungan ekonomi perdagangan antara kedua negara tidak hanya perlu dijaga, tetapi juga harus terus ditingkatkan. Jepang sebagai mitra dagang utama memiliki potensi besar untuk mendorong peningkatan perdagangan luar negeri Indonesia.
Perdagangan Indonesia dengan Jepang bersifat komplementer atau saling melengkapi sehingga menciptakan hubungan yang saling menguntungkan (win-win). Melalui hubungan ini, kedua negara memperoleh manfaat optimal dalam memperkuat cadangan devisa masing-masing.
Sementara itu, perdagangan dengan beberapa mitra dagang lain, seperti China, cenderung bersifat substitusi. Artinya, produk yang diperdagangkan saling menggantikan sehingga memunculkan persaingan langsung. Pola ini berpotensi menimbulkan persaingan yang keras dan merugikan pihak yang lebih lemah, dalam hal ini Indonesia.
Hubungan dagang dengan China menunjukkan karakter substitusi karena kedua negara mengekspor produk yang relatif serupa. Indonesia dan China sama-sama mengekspor produk pertanian, pangan, dan perkebunan. Selain itu, China juga mengekspor berbagai produk manufaktur seperti tekstil, elektronik, dan barang industri lainnya, yang juga diproduksi di Indonesia.
Hubungan dagang yang bersifat substitusi ini menjadi tantangan bagi Indonesia. Produk dan industri domestik sering kali kalah bersaing karena harga barang impor yang lebih murah. Kondisi ini turut mendorong terjadinya deindustrialisasi dini (premature deindustrialization), ketika industri dalam negeri tertekan oleh persaingan impor. Selain itu, neraca perdagangan sektor manufaktur terus mengalami defisit, sementara sebagian pelaku usaha kecil dan menengah beralih peran menjadi distributor barang impor dari China.
Baca Juga: Seluruh Aset Disita, China Jatuhkan Sanksi Berat ke Politisi Jepang
Berbeda dengan China, perekonomian Jepang memang tumbuh relatif lebih lambat, tetapi skalanya tetap sangat besar. Ekonomi Jepang masih termasuk salah satu yang terbesar di dunia, bersama Amerika Serikat, China, India, dan Jerman. Karena itu, kunjungan Presiden Prabowo seharusnya dimanfaatkan secara maksimal oleh tim ekonomi pemerintah, bukan sekadar menjadi diplomasi sambilan.
Setelah kunjungan tersebut, tim ekonomi Indonesia perlu merancang langkah konkret untuk memperkuat promosi dan kerja sama ekonomi dengan Jepang. Hubungan yang bersifat komplementer ini membuka peluang besar bagi kedua negara untuk saling menguntungkan.
Selama ini, Jepang mengimpor dari Indonesia berbagai komoditas seperti energi, batu bara, LNG, serta produk pertanian dan perikanan. Sebaliknya, ekspor Jepang ke Indonesia didominasi mesin, produk teknologi tinggi, dan investasi industri. Pola perdagangan komplementer seperti ini lebih memberikan nilai tambah karena memperkuat rantai nilai (value chain) kedua negara.
Indonesia pun dapat terlibat lebih dalam dalam rantai pasok global. Dampaknya antara lain berupa transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja industri, serta penguatan sektor manufaktur, khususnya otomotif dan elektronik.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: