Kredit Foto: BPMI
Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo kembali melontarkan pernyataan yang mengundang perhatian publik terkait proses politik menjelang Pilpres 2024.
Dalam pernyataannya, Gatot menilai Presiden Prabowo Subianto sejak awal berada dalam posisi tertekan hingga akhirnya memilih Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden.
Pernyataan tersebut kembali ramai diperbincangkan setelah potongan videonya beredar luas di media sosial. Bahkan, sejumlah warganet mengaitkannya dengan kondisi politik saat ini dan menilai Prabowo berada dalam situasi yang tidak sepenuhnya bebas mengambil keputusan.
"Sepertinya Presiden Prabowo Subianto menikmati atau menelan pil pahit," tulis akun X @jayabay19479190.
Akun yang sama juga menyinggung pernyataan Gatot yang menyebut Prabowo bukan hanya mendapat tekanan, tetapi juga berada dalam posisi tersandera secara politik.
"Pernyataan mantan Panglima TNI Jend (Purn) Gatot Nurmantyo secara tidak langsung bahwa Prabowo Subianto tersandera & disandera oleh Jokowi. Sehingga mau tidak mau mengikuti keinginan mantan Presiden Jokowi," ujarnya.
Dalam video yang beredar di akun X, Gatot pun mengungkapkan bahwa upaya mendorong Gibran menjadi pendamping Prabowo sudah berlangsung jauh sebelum deklarasi resmi dilakukan.
"Sejak awal memang ditodong diintimidasi untuk pilih Gibran. Saya mengalami siasat untuk naikkan Gibran sudah mulai lewat," kata Gatot.
Baca Juga: Prabowo Presiden Langka, Qodari: Mungkin Satu-satunya di Dunia...
Menurut Gatot, tekanan itu semakin terasa ketika relawan Presiden ke-7 RI Joko Widodo mulai menyampaikan pesan mengenai skenario politik ke depan.
"Relawan Jokowi menyampaikan perintah dari Jokowi menyampaikan bahwa Gibran Prabowo dua periode betapa eneknya lagi kan Prabowo dipaksa lagi seperti itu," lanjutnya.
Gatot kemudian mengaitkan situasi tersebut dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 90 yang mengubah syarat usia calon wakil presiden pada 16 Oktober 2023.
Putusan itu membuka jalan bagi kepala daerah yang berusia di bawah 40 tahun untuk maju sebagai cawapres. Menurut Gatot, setelah putusan tersebut keluar, muncul ancaman politik yang membuat posisi Prabowo semakin sulit.
"Ketika hari Jumat atau hari Sabtu setelah ditunggu-tunggu oleh sang paman enggak bereaksi ini namanya Prabowo Subianto. Maka sang paman mengancam, 'Alhamdulillah batas usia minimal sudah bisa saya selesaikan. Tinggal satu aja, batas usia maksimal. Bisa terjadi calon presiden yang umurnya tua tidak masuk menjadi presiden'. Artinya apa? Sang paman mengancam, 'Hei Prabowo, hari Senin bisa saya putuskan kamu nggak jadi presiden loh, nggak bisa daftar'," jelas Gatot.
Ia menilai ancaman tersebut membuat Prabowo tidak memiliki banyak pilihan. Gatot bahkan menyebut deklarasi pasangan Prabowo-Gibran yang dilakukan pada Minggu, 22 Oktober 2023, menjadi bukti adanya tekanan yang sangat kuat.
Baca Juga: Agenda Jokowi Keliling Indonesia Demi PSI Gak Ngaruh, PDIP Tak Terkalahkan
Menurutnya, deklarasi yang berlangsung di Senayan saat itu merupakan jawaban atas situasi yang sedang dihadapi Prabowo.
"Dan hari Minggunya deklarasi di Senayan dibuktikan lagi, 'Pak Prabowo, Pak Prabowo tenang, saya sudah di sini. Tenang, jangan khawatir, saya sudah di sini.' Bolak-balik itu, iya kan? Iya, itu. Jadi sejak awal memang ditodong, diintimidasi untuk milih Gibran," tandasnya.
Pernyataan Gatot tersebut kembali memantik perdebatan di ruang publik karena menyentuh salah satu momen paling krusial dalam kontestasi politik menjelang Pilpres 2024. Hingga kini, pernyataan tersebut terus menjadi bahan diskusi dan memunculkan beragam respons dari masyarakat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: