Purbaya Tambah Dana Rp100 triliun ke Perbankan, BSI Genjot Penyaluran Kredit Konsumer
Kredit Foto: Istimewa
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menyambut baik penempatan dana tambahan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa senilai Rp100 triliun ke himpunan bank milik negara (Himbara).
Wakil Direktur Utama BSI, Bob Tyasika Ananta, memastikan bahwa dana tersebut akan langsung disalurkan untuk mendorong pembiayaan ke sektor produktif.
“Kita sementara ini kalau ada penempatan seperti itu di BSI, memang langsung disalurkan. Memang Bank BSI portofolionya kan consumer banking,” ungkap Bob di Komplek Perkantoran BI, dikutip Sabtu (4/4/2026).
Meski dana tambahan tersebut diperbolehkan ditempatkan di Surat Berharga Negara (SBN), BSI memilih untuk menyalurkannya langsung ke berbagai pembiayaan yang dibutuhkan masyarakat.
Bob menjelaskan, pembiayaan consumer banking tetap memiliki peran penting dalam mendorong aktivitas ekonomi. Penyaluran dana tersebut mencakup berbagai kebutuhan, seperti pembiayaan multiguna, otomotif, ibadah haji, hingga pembiayaan emas dan layanan gadai.
“Tapi consumer itu penting, bisa untuk mitra guna, bisa untuk otomotif, bisa juga haji, bisa juga untuk emas. Nah emas batangan kita juga ada, termasuk gadai. Jadi disalurkan,” terangnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menambah penempatan dana Rp100 triliun ke sektor perbankan, termasuk Himbara dan Bank Jakarta, guna menjaga likuiditas di tengah kenaikan yield obligasi pemerintah.
Kebijakan ini diambil setelah pemerintah mendeteksi adanya pengetatan likuiditas di perbankan yang tercermin dari kenaikan yield surat utang negara.
“Kalau bond yield naik 0,1 persen saya udah perhatiin, ada apa nih? Naik 0,4 persen, pasti kekeringan, kekurangan likuiditas di bank kurang atau apa penyebabnya? Saya cek, oh betul bank kurang. Seminggu sebelum Lebaran, saya tambah lagi Rp100 triliun masukin ke sistem perekonomian. Kita maintain likuiditas di sistem keuangan kita dengan serius,” ujarnya di kantornya, Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Sebelumnya, pemerintah telah menempatkan dana sebesar Rp200 triliun di perbankan. Dengan tambahan terbaru ini, total penempatan dana mencapai sekitar Rp300 triliun.
Purbaya menjelaskan, langkah tersebut bertujuan menahan laju kenaikan yield obligasi. Dengan tambahan likuiditas, perbankan memiliki ruang untuk membeli SBN atau menempatkan dana di Bank Indonesia, sehingga tekanan terhadap suku bunga dapat dikendalikan.
“Kalau bank beli obligasi, yield bisa ditekan turun lagi. Paling tidak, tidak naik terlalu tinggi atau bunga melonjak tajam,” tutur Purbaya.
Purbaya mengatakan, tambahan Rp100 triliun tersebut relatif terbatas, namun dinilai cukup untuk meredam gejolak jangka pendek di pasar keuangan.
Berbeda dengan skema sebelumnya, penempatan dana kali ini bersifat fleksibel. Pemerintah dapat menarik dana sewaktu-waktu sesuai kebutuhan pengelolaan kas negara.
“Ini agak beda. Penempatannya fleksibel, bisa ditarik kapan saja,” jelas Purbaya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: