Gencatan Senjata Tidaklah Cukup, Ini Sejumlah Tuntutan Iran ke Amerika Serikat
Kredit Foto: Istimewa
Iran menyampaikan respons terhadap proposal perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat. Pihaknya menyampaikan penolakan atas hal tersebut, khususnya terkait dengan gancatan senjata di Timur Tengah.
Kepala Misi Diplomatik Iran di Kairo, Mojtaba Ferdousi Pour menyatakan bahwa gencatan senjata tidak cukup untuk mengakhiri konflik. Ia menegaskan bahwa pihaknya hanya akan menerima penghentian perang secara permanen dengan jaminan tidak akan diserang kembali oleh Israel dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Iran Kritik IAEA: Bencana Nuklir Bisa Muncul Akibat Serangan Amerika Serikat
“Kami tidak hanya menerima gencatan senjata. Kami hanya menerima akhir perang dengan jaminan bahwa kami tidak akan diserang lagi,” ujarnya.
Iran juga mengajukan sejumlah syarat utama yang dituangkan dalam sekitar sepuluh klausul, di antaranya adalah penghentian konflik dalam seluruh kawasan, pencabutan sanksi ekonomi, program rekonstruksi pascakonflik hingga protokol keamanan untuk pelayaran di Selat Hormuz.
Langkah Iran ini menunjukkan bahwa proses diplomasi masih berlangsung di tengah konflik yang belum mereda. Namun, perbedaan mendasar antara tuntutan dan pendekatan bertahap yang diusulkan membuat peluang kesepakatan jangka pendek masih penuh tantangan.
Iran menginginkan solusi yang lebih komprehensif dan mengikat secara jangka panjang. Kondisi ini memperlihatkan bahwa negosiasi menuju perdamaian tidak hanya bergantung pada penghentian sementara konflik, tetapi juga pada kesepakatan strategis yang menyentuh akar permasalahan di Timur Tengah.
Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat dilaporkan mulai menjajaki upaya diplomasi dan hal tersebut mulai menunjukkan perkembangan setelah kedua pihak menerima kerangka proposal perdamaian yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz di Timur Tengah.
Laporan menyebutkan bahwa rancangan kesepakatan tersebut disusun oleh Pakistan. Kerangan tersebut telah disampaikan kepada kedua negara melalui jalur komunikasi khusus. Proposal itu sendiri dijuluki Islamabad Accord. Ia berisi usulan pendekatan dua tahap, dimulai dengan gencatan senjata segera yang diikuti oleh perundingan kesepakatan komprehensif.
Dalam tahap awal, gencatan senjata akan langsung diberlakukan dan diharapkan membuka kembali Selat Hormuz. Dengan waktu sekitar 15–20 hari, kedua negara selanjutnya diharapkan bisa merampungkan kesepakatan lanjutan.
Dokumen awal direncanakan berbentuk memorandum of understanding (MoU) yang difinalisasi secara elektronik melalui Pakistan. Ia mesti disetujui terlebih dahulu oleh Iran dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Dibombardir Amerika Serikat, Kepala Intelijen Garda Revolusi Iran Tewas
Selat Hormuz menjadi salah satu poin krusial, mengingat perannya sebagai jalur utama perdagangan energi global. Pejabat Senior Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, menegaskan bahwa akses menuju selat tersebut harus menjadi bagian utama dalam setiap penyelesaian konflik dari Timur Tengah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: