Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Meski Kejahatan Perang, Amerika Serikat Tak Akan Segan Bombardir Infrastruktur Sipil di Iran

        Meski Kejahatan Perang, Amerika Serikat Tak Akan Segan Bombardir Infrastruktur Sipil di Iran Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Amerika Serikat menyampaikan bahwa pihaknya tak segan akan membombardir infrastruktur sipil dari Iran. Hal ini menyusul tidak adanya kesepakatan damai hingga sejumlah kritik karena hal tersebut melanggar hukum internasional dan merupakan kejahatan perang.

        Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengancam akan memerintahkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur sipil, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika tidak ada kesepakatan untuk mengakhiri perang dalam waktu dekat dengan Iran.

        Baca Juga: Gencatan Senjata Tidaklah Cukup, Ini Sejumlah Tuntutan Iran ke Amerika Serikat

        "Seluruh negara dapat dihancurkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam," kata Trump.

        Trump mengklaim bahwa pihaknya mampu menghancurkan seluruh jembatan dan pembangkit listrik hanya dalam beberapa jam jika diperintahkan. Meski demikian, ia menyatakan masih berharap langkah tersebut tidak perlu dilakukan.

        "Saya harap saya tidak perlu melakukannya," tegas Trump.

        Ancaman tersebut disampaikan menjelang tenggat waktu yang ia tetapkan pada Selasa 20.00. Ia menuntut negara terkait untuk menghentikan program senjata nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz

        "Maksud saya, penghancuran total dan itu akan terjadi selama empat jam jika kita menginginkannya. Kita tidak ingin itu terjadi," katanya.

        Ancaman terhadap infrastruktur sipil memicu kritik dari berbagai pihak yang menilai tindakan tersebut berpotensi melanggar hukum internasional dan dikategorikan sebagai kejahatan perang. Namun, Trump menolak kritik tersebut dengan menyatakan bahwa ancaman utama justru berasal dari potensi pengembangan senjata nuklir oleh Iran.

        "Saya tidak khawatir tentang itu. Tahukah Anda apa itu kejahatan perang? Memiliki senjata nuklir," kata Trump.

        Ultimatum ini menandai peningkatan signifikan dalam eskalasi konflik yang telah berlangsung lebih dari lima minggu. Jika ancaman tersebut direalisasikan, para analis memperingatkan bahwa konflik dapat meluas secara drastis, dengan dampak besar terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global.

        Sebelumnya, Iran menyampaikan respons terhadap proposal perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat. Pihaknya menyampaikan penolakan atas hal tersebut, khususnya terkait dengan gancatan senjata di Timur Tengah.

        Kepala Misi Diplomatik Iran di Kairo, Mojtaba Ferdousi Pour menyatakan bahwa gencatan senjata tidak cukup untuk mengakhiri konflik. Ia menegaskan bahwa pihaknya hanya akan menerima penghentian perang secara permanen dengan jaminan tidak akan diserang kembali oleh Israel dan Amerika Serikat.

        “Kami tidak hanya menerima gencatan senjata. Kami hanya menerima akhir perang dengan jaminan bahwa kami tidak akan diserang lagi,” ujarnya.

        Baca Juga: Iran Kritik IAEA: Bencana Nuklir Bisa Muncul Akibat Serangan Amerika Serikat

        Iran juga mengajukan sejumlah syarat utama yang dituangkan dalam sekitar sepuluh klausul, di antaranya adalah penghentian konflik dalam seluruh kawasan, pencabutan sanksi ekonomi, program rekonstruksi pascakonflik hingga protokol keamanan untuk pelayaran di Selat Hormuz.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: