Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Memanfaatkan Krisis Harga Minyak sebagai Momentum Penguatan Sektor 'Natural Hedge' Indonesia

        Memanfaatkan Krisis Harga Minyak sebagai Momentum Penguatan Sektor 'Natural Hedge' Indonesia Kredit Foto: Instagram/Didik Junaedi Rachbini
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Diskusi di media sosial dan media online tentang dampak krisis harga minyak karena perang AS-Israel vs Iran seperti mau kiamat. Padahal, guncangan global dari fluktuasi harga minyak pernah terjadi berkali-kali sejak masa Soeharto, Gus Dur, SBY sampai Jokowi.

        Sekarang secara nyata kita menghadapinya. Perspektif kita harus out of the box dengan melihat bahwa di balik krisis juga ada peluang. Kita harus memanfaatkan krisis harga minyak untuk penguatan sektor “natural hedge” atau sumber daya alam Indonesia. Dalam menghadapi krisis, Indonesia memiliki keunggulan struktural dalam sektor berbasis sumber daya alam karena sektor ini mampu berperan sebagai “shock absorber” saat terjadi krisis energi global.

        Kebijakan yang tepat akan menentukan apakah sektor-sektor ini hanya menjadi “penyelamat jangka pendek” atau bahkan justru menjadi fondasi transformasi ekonomi jangka panjang.

        Krisis harga minyak ini jelas di hadapan mata akan menekan perekonomian Indonesia melalui peningkatan biaya energi, tekanan fiskal subsidi, dan pelemahan nilai tukar. Namun, di balik tekanan tersebut terdapat sejumlah sektor yang justru menunjukkan ketahanan (resilience) bahkan menjadi pemenang (winner) dalam kondisi tersebut.

        Sektor-sektor tersebut meliputi sektor pertambangan batubara, minyak bumi, gas, dan panas bumi, bijih logam (nikel, timah, bauksit), serta perkebunan (CPO dan karet).

        Semua sektor tersebut basis input-nya domestik rupiah, tetapi output-nya ekspor menghasilkan valuta asing (dolar, yen, atau yuan) yang sekaligus memberikan keuntungan dari depresiasi nilai tukar. Kita harus membuat kebijakan dan memberikan rekomendasi strategis untuk mengoptimalkan momentum tersebut guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

        Impor minyak mentah dan BBM sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak global, lalu berakibat pada tekanan transaksi berjalan, beban subsidi di dalam fiskal besar, dan dampak depresiasi rupiah. Tetapi pada saat yang sama, sektor berbasis sumber daya alam (SDA) tertentu justru mengalami windfall effect.

        Pada masa SBY, ketika harga minyak naik tinggi, sektor ini mampu mendorong ekonomi tumbuh tinggi sekitar 6,5 persen. Ini terjadi karena memanfaatkan harga komoditas global ikut naik dengan permintaan ekspor meningkat. Depresiasi otomatis meningkatkan daya saing ekspor semakin kuat.

        Apa saja sektor yang resilien dan peluang natural hedge yang menguntungkan? Pertama, pertambangan batubara, yang merupakan substitusi langsung terhadap energi minyak di dalam negeri. Permintaan global meningkat saat harga minyak tinggi menjadi peluang meningkatkan devisa dan penerimaan negara sebagai windfall tax.

        Kedua, peningkatan lifting minyak, gas, dan panas bumi bisa ditingkatkan karena secara relatif ongkos produksi menjadi murah.

        Ketiga, tambang bijih logam, seperti nikel, timah, dan bauksit. Permintaan pada masa normal sangat tinggi dan lebih tinggi harganya pada saat krisis untuk memenuhi kebutuhan industri global (EV, elektronik, konstruksi).

        Keempat, sumber daya alam yang sukses dalam pengembangannya adalah perkebunan CPO, karet, kakao, kopi, dan lainnya. Produk CPO berperan strategis sebagai substitusi energi (biofuel). Dinamika ekspor dominan, diuntungkan oleh depresiasi rupiah. Semua itu adalah berkah dari Tuhan, meskipun krisis tetapi kita punya bantalan natural hedging.

        Jadi, semua potensi tersebut harus masuk kerangka kebijakan agar sektor ini menjadi winner. Sektor ini sebagai natural hedge di mana depresiasi rupiah meningkatkan pendapatan ekspor dalam rupiah. Struktur biaya domestik tidak berubah, sebagian besar biaya produksi berbasis lokal dan tidak tertekan oleh impor mahal.

        Pemerintah tidak boleh menyerah dengan tekanan krisis harga minyak ini karena kita memiliki natural hedge ini dan mutlak harus mengambil kebijakan dalam bentuk strategi fiskal adaptif dengan optimalisasi penerimaan negara dari windfall profit tersebut.

        Pengusaha harus berkorban; tambahan keuntungan tersebut adalah hak Pasal 33 di mana bumi, air, dan kekayaan alam dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Pengusaha tidak rugi ketika pemerintah mengambil tambahan keuntungan akibat dari krisis harga minyak, tetapi harus dilakukan dengan transparan.

        Danantara juga mendapat windfall profit di mana perusahaan negara yang bergerak di sektor ini mendapat manfaat. Hasil dari penerimaan secara optimal dipakai untuk mengatasi krisis ini.

        Krisis ini bagi pemerintah yang cerdas justru menjadi peluang untuk transformasi menuju pertumbuhan 6-7 persen, di mana kebijakan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah dari produk ini mendapat momentum yang tepat dengan orientasi ekspor sekuat mungkin.

        Indonesia tidak akan bisa lewat 5 persen tingkat pertumbuhannya jika hanya mengandalkan sektor domestik dan pengeluaran pemerintah. Harus percepat hilirisasi nikel, bauksit, kakao, rumput laut, perikanan, CPO, dan sebagainya. Jadi, transformasi tersebut adalah mengunggulkan resource based industry, yakni mendorong industrialisasi berbasis SDA (smelter, biofuel, green industry).

        Baca Juga: Prabowo Siapkan Investasi Besar, Limbah Minyak Goreng Disulap Jadi Avtur

        Bahkan kebijakan dan strategi transisi energi bisa mendapatkan momentum pada saat krisis ini. Kita harus membuat kebijakan dengan menggunakan momentum windfall untuk mendanai transisi menuju ekonomi rendah karbon, sekaligus mengintegrasikan sektor winner ke dalam roadmap green economy.

        Jadi, krisis harga minyak tidak harus menjadi beban, melainkan dapat menjadi momentum penghematan, efisiensi, dan konsolidasi fiskal. Akselerasi hilirisasi dan industrialisasi berbasis SDA juga mendapat momentum yang bagus. Windfall profit juga dapat menjadi sumber pembiayaan transisi energi menuju energi hijau.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: