Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Limbah Cair Sawit Berpotensi Jadi Sumber Nutrisi Nasional dan Tekan Impor Pupuk Kimia

        Limbah Cair Sawit Berpotensi Jadi Sumber Nutrisi Nasional dan Tekan Impor Pupuk Kimia Kredit Foto: Sahril Ramadana
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) dinilai dapat menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pupuk kimia impor sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Limbah yang selama ini dianggap sebagai beban lingkungan tersebut dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber nutrisi bagi sektor pertanian.

        Pakar ilmu tanah dari IPB University, Dr. Basuki Sumawinata, mengungkapkan bahwa dengan produksi sekitar 50 juta ton minyak sawit per tahun, Indonesia menghasilkan kurang lebih 100 juta ton LCPKS. Limbah tersebut memiliki nilai Biological Oxygen Demand (BOD) rata-rata sebesar 25.000 ppm, yang mencerminkan tingginya kandungan bahan organik di dalamnya.

        Menurut Basuki, jika dikelola dengan pendekatan ilmiah yang tepat, LCPKS dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk kimia yang selama ini masih bergantung pada impor. “LCPKS mengandung unsur hara lengkap seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium hingga unsur mikro. Ini merupakan sumber nutrisi alami yang sangat bernilai bagi kebun sawit,” ujarnya.

        Ia menjelaskan, tingginya kandungan bahan organik dalam LCPKS menjadikannya sebagai sumber karbon organik utama bagi tanah. Tanpa pasokan bahan organik yang memadai, tanah akan kehilangan daya dukung biologisnya sehingga produktivitas kebun menurun dalam jangka panjang. Kondisi ini pada akhirnya mendorong ketergantungan yang lebih besar terhadap pupuk kimia.

        Namun demikian, Basuki menilai kebijakan pengolahan LCPKS hingga mencapai standar sangat rendah, seperti BOD di bawah 100 mg/l, justru berpotensi menghilangkan manfaat ekonominya. Pada kondisi tersebut, sebagian besar karbon organik telah hilang sehingga limbah tidak lagi efektif sebagai pupuk organik.

        Ia bahkan menyebut penerapan standar tersebut secara menyeluruh dapat berujung pada pemborosan, mengingat kebutuhan pupuk nasional masih didominasi oleh produk impor. Pendekatan tersebut dinilai tidak sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang mendorong pemanfaatan kembali sumber daya dalam sistem produksi.

        Basuki juga mengingatkan bahwa LCPKS dengan BOD rendah yang tampak jernih belum tentu aman bagi lingkungan. Cairan tersebut masih berpotensi mengandung amonia atau nitrat yang berbahaya bagi biota air, terutama jika dibuang ke sungai dengan kapasitas pengenceran terbatas.

        Sebagai solusi, ia merekomendasikan pengolahan LCPKS hingga mencapai BOD sekitar 3.000–5.000 mg/l sebelum diaplikasikan ke lahan melalui metode land application. Pada tingkat tersebut, bahan organik masih tersedia dan cukup stabil sehingga tidak menimbulkan bau maupun risiko lingkungan.

        Selain itu, pengelolaan LCPKS juga perlu memperhatikan parameter kimia tanah, termasuk pengendalian kondisi reduksi untuk mencegah terbentuknya gas metana. Gas tersebut umumnya muncul pada kondisi tanah yang sangat reduktif, yakni di bawah minus 150 milivolt.

        Basuki menegaskan bahwa pengembalian nutrisi organik ke lahan menjadi kunci dalam menjaga kesehatan tanah secara berkelanjutan. Tanpa suplai karbon organik dari limbah sawit, kadar bahan organik tanah akan terus menurun sementara alternatif sumber organik masih terbatas.

        Ia mendorong pemerintah untuk tidak hanya menetapkan batas mutu limbah, tetapi juga mengatur volume aplikasi per hektare, periode pemberian, serta sistem pemantauan yang ketat. Langkah ini diperlukan agar pemanfaatan LCPKS dapat berjalan optimal tanpa mencemari badan air maupun air tanah.

        Optimalisasi LCPKS dinilai mampu menekan biaya produksi perkebunan sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi. Dampak lanjutannya adalah meningkatnya daya saing industri sawit nasional serta terjaganya stabilitas ekonomi sektor pertanian.

        Baca Juga: Krisis Selat Hormuz Jadi Peluang Emas, Indonesia Diburu untuk Pasokan Pupuk

        Baca Juga: Saat Dunia Krisis, Presiden Prabowo Andalkan Sawit untuk Jadi Avtur

        Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan fluktuasi harga energi, ketergantungan terhadap pupuk impor menjadi salah satu kerentanan yang perlu diatasi. Oleh karena itu, pemanfaatan LCPKS tidak hanya dipandang sebagai solusi pengelolaan limbah, tetapi juga sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

        Basuki menekankan, regulasi lingkungan yang ideal harus mampu menyeimbangkan perlindungan ekosistem dengan kebutuhan produktivitas pertanian. Dengan pendekatan berbasis ilmu tanah, limbah sawit berpotensi bertransformasi dari masalah lingkungan menjadi aset strategis bagi keberlanjutan ekonomi Indonesia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: