Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Taiwan Curigai 'Kado Beracun' dari China

        Taiwan Curigai 'Kado Beracun' dari China Kredit Foto: IStock/ytwong
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Taiwan curiga dengan insentif yang baru-baru ini ditawarkan oleh China. Pihaknya mencurigai bahwa hal tersebut adalah upaya dari rivalnya untuk mempengaruhi kebijakan domestika yang diambil oleh Taipei.

        Kepala Biro Keamanan Nasional Taiwan, Tsai Ming-yen, mengatakan hanya pemerintah yang berwenang merancang dan menjalankan kebijakan lintas selat. Ia menegaskan setiap kerja sama, termasuk terkait pelonggaran perdagangan dan pariwisata, harus dikendalikan oleh pemerintah, bukan melalui jalur partai politik.

        Baca Juga: Spanyol Dorong China Gantikan Peran Amerika Serikat di Dunia

        "Dengan menyerahkan perencanaan terkait kepada pemerintah, hal ini juga dapat membantu menghindari risiko yang tidak perlu dan konsekuensi jangka panjang," katanya.

        Tsai juga menuding langkah-langkah “niat baik” ini kerap digunakan sebagai alat politik. Ia menyebut kebijakan tersebut seperti kado beracun karena biasanya muncul menjelang pemilu, menargetkan wilayah tertentu dan menyasar industri atau kelompok tertentu.

        "Namun, hal ini telah menjadi alat yang digunakan komunis untuk mencampuri pemilihan umum dari Taiwan," ungkap Tsai.

        Taiwan sendiri dijadwalkan menggelar pemilu lokal penting pada November. Pemerintah Taiwan khawatir langkah insentif ini dapat mempengaruhi dinamika politik domestik, seperti yang dituduhkan terjadi pada pemilu sebelumnya.

        Sebelumnya, China mengumumkan sepuluh langkah insentif baru untuk Taiwan. Pengumuman ini muncul setelah adanya ajakan reunifikasi usai pertemuan dari Ketua Partai Kuomintang (KMT) dan Oposisi Taiwan, Cheng Li-wun dan Presiden China, Xi Jinping.

        Dikutip dari Xinhua, China menawarkan sejumlah keuntungan kepada Taiwan. Hal itu termasuk pelonggaran wisata, akses tayangan televisi, pembukaan kembali penerbangan lintas wilayah, kemudahan perdagangan pangan hingga izin penayangan drama dan konten dari Taipei.

        China juga membuka peluang pembentukan mekanisme komunikasi rutin dari Partai Komunis China dan Partai Kuomintang. Namun, hal ini akan tergantung pada langkah yang diambil oleh pemerintah dari Taiwan.

        Baca Juga: Amerika Serikat, Filipina dan Australia Gelar Latihan Militer di Laut China Selatan

        Beijing menegaskan bahwa sejumlah kebijakan bergantung pada posisi politik wilayah itu, khususnya terkait penolakan terhadap kemerdekaan. Konten Taiwan juga harus memenuhi syarat seperti orientasi yang benar dan konten yang sehat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: